Surat-Surat Anne Marie


sumber: freevector
Jean Pierre membuka kotak surat  depan rumah. Tampak sepucuk amplop putih. Ia sudah menduga dari siapa pengirimnya. Ini sudah kali ketiga amplop yang sama menghampiri kotak surat itu.
            Jean Pierre membawanya ke teras rumah begitu menyambar pucuk amplop putih itu. Dilemparnya ke atas meja mungil dekat secangkir teh yang baru saja disajikan bi Inah. Berita demonstrasi Turunkan Suharto yang melahap hampir seluruh halaman depan harian Jogja tak lagi menarik minatnya. Jean Pierre memegangi kepalanya yang terasa berat.
            Ia melirik cangkir teh sebelum meraihnya. Meskipun sudah beberapa kali, tetap saja isi amplop berperangko menara Eiffel tadi menggodanya untuk ingin tahu lebih lanjut. Barangkali berbeda isinya. Entah apa yang membuatnya merobek amplop itu pada akhirnya.
            Ia mendengus. Dengusan yang sama setiap menerima sepucuk surat yang sama sebelumnya.Tidak lazim. Sudah tiga kali dalam waktu kurang dari dua bulan, Anne Marie mengiriminya surat yang isinya sama. Minta dikirimi uang.
            Jean Pierre tak tahan lagi. Ia mendatangi telpon rumahnya dan memencet beberapa jumlah angka di luar kepala. Jari-jarinya mengetuk-ngetuk meja telpon sambil menunggu seseorang menyambut telponya di jauh seberang sana.
            Lalu ia berkoar-koar setelah disambut suara seorang perempuan disana dalam bahasa Perancis. “Ya, sedari pagi dia tak bisa tidur. Namamu selalu disebut. Seperti biasa. Terlalu sering.”
            “Boleh kamu bangunkan dia? Aku ingin bicara,” Jean Pierre setengah berharap.
            “Jean Pierre, Paris sudah sangat larut. Dia pun sedang terlelap. Ohya, suratnya sudah kauterima?” si perempuan mengalihkan pembicaraan.
            “Sudah.”
            “Itu saja yang dia mau. Di dalam surat itu.”
            “Okey,  nanti sore aku telpon lagi. Di sini sedang kacau. Semua toko tutup...”
            “Maaf Jean Pierre, ini waktu istirahatku. Bonne nuit!”
            Jean Pierre menutup telpon. Kembali ia membaca surat dari Anne Marie. Ibunya. Satu-satunya harta berharga baginya di dunia ini. Dia membutuhkan uang, 1400 franc. Uang sebesar itu ia  punya. Tapi sangat berharga  bagi Jean Pierre. Terutama pada saat-saat seperti ini: toko tutup karena ancaman penjarahan. Situasi politik di Indonesia sedang kacau. Toko rotinya harus ditutup dan ditulisi MILIK PRIBUMI supaya aman dari penjarah maupun perusak.
            Ia menghirup tehnya. Ia musti segera memutuskan. Apakah akan tetap tinggal di Indonesia dan memaksa ibunya ikut bersamanya. Dengan harapan menghemat tak perlu membayar Christelle menunggui ibunya. Ataukah ia meninggalkan Indonesia dan memulai bisnis di Prancis sehingga bisa menunggui ibunya. BERSAMBUNG


           

Comments

Paling Sering Dibaca

Liburan di Taman Botani Sukorambi Jember : Dari ‘Dag Dig Dug’ Main Waterball Hingga Belajar Pertanian Modern

Intermezo: Permintaan Para Publik Figur Saat Menginap di Hotel