Ma'il


Sang Surya sudah memamerkan emasnya saat aku baru tiba di ujung gang. Bukit pulau di seberang sana tampak gagah dengan kilatan air menjadi alasnya. Air laut pun belum kuasa menelan seluruh tepian pantai. Tampaklah plastik-plastik menari-nari oleh angin  di antara bebatuan koral dan remahan karang mati, berkelindan dengan bayangan Ma’il.
            Ma’il. Aku jadi teringat ucapannya, plastik sangat berbahaya bagi kelangsungan hidup segala makhluk di laut. Termasuk ikan, yang menjadi sumber kehidupanku dan orang-orang di kampung ini.
Menurut buku yang dibaca Ma’il, plastik memerlukan ratusan tahun untuk terurai. Oleh sebab itu, harus dipungut bila menemukan di tempat yang tidak seharusnya. Bibir pantai bukan tempat yang tepat bagi plastik. Jadi harus dipungut. Inilah yang kulakukan setiap pagi:  memunguti sampah. Aku akan selalu memungutinya hingga nyawaku dipisahkan dari ragaku oleh lelah.
            Kegiatan ini sudah kulakukan sejak kepergian Ma’il. Bayangannya memenuhi ingatanku hampir sepanjang hari, nampak bersemangat memunguti plastik-plastik sampah di pinggir pantai saat surut.  Pernah ia gatal-gatal serta sesak napas karena kakinya tertusuk duri landak laut. Namun tak lama waktunya dihabiskan untuk rebahan. Diam-diam kurasakan kesenangan saat mengetahui ia memegang prinsip yang kutanamkan padanya.  
            Aku selalu bilang, “ kau lelaki, surgamu memang di telapak  kaki ibumu. Ayahmu ini yang akan mengawalmu hingga kelak kau benar-benar siap untuk menjangkaunya. Sebab surga bukanlah untuk manusia yang rapuh!” Aku percaya  nasehatku inilah yang berhasil membuatnya tumbuh menjadi anak laki-laki yang kuat, paling kuat di antara anak-anak  seusia di kampung penuh rumah panggung ini.
            Namun kegagahan itu telah hanyut oleh airmata setiap kali bayangan Ma’il hadir dalam ingatanku. Bayangan itu mengejek keperkasaanku yang telah layu oleh keraguan akan prinsip gagah yang selama ini kuimani. Ia menertawakanku, semakin keras riang tawanya menikmati derasnya airmata yang mengalir. Lelaki tak akan pernah menangis, pun saat berduka.
Aku menganggap kecengengan yang kualami semenjak kepergian anakku ini satu-satunya hukuman yang pantas. Yang salah harus dihukum. Ini juga bagian prinsip sang raja gagah.  Memunguti sampah juga hukuman  yang selalu kucambukan kepada Ma’il  bila terlambat bangun pagi saat hari libur. Setidaknya pernah  berhasil. Ma’il selalu bangun pagi setiap libur sekolah. Ia bahkan rajin ke pantai membersihkan sampah dan pulang dengan sekarung plastik  serta sepenggal dua penggal kisah  yang masih kuingat sampai kini. Namun aku tak  sehebat Ma’il. Hukuman ini justru menyisakan penggalan kepedihan yang acapkali kubawa pulang untuk istriku.
            Sedangkan Ma’il sungguh lebih pintar dariku. Ia selalu menyulap hukuman menjadi pelajaran yang berharga. Misalnya, suatu pagi setelah kuhukum memunguti sampah, ia  bercerita mendapati orang-orang  membuang sampah  di bibir pantai. Ia melerai mereka, “hei, jangan membuang sampah disitu! Jorok, tau!” Namun peringatannya tak diindahkan.
            “Kenapa pusing dengan mereka buang sampah?” tanyaku datar.
            “Sebab, malu jika dilihat turis. Kata pak Guru, mengotori pantai tidak sesuai dengan sapta pesona, Yah!”
Jawaban itu melampaui perkiraanku. Ketika masih kecil, aku bahkan tak kuasa melerai ayahku untuk selalu berburu rusa dan kerbau di hutan dan menjual dagingnya yang harganya mahal. Namun, Ma’il mampu menunjukkan keberanian berbeda kepada orang-orang yang jauh lebih tua darinya di kampung ini.  
Diam-diam aku mengaguminya. Tetapi sebagai sang raja  aku tak boleh merendahkan diri dengan terlalu menunjukan kekagumanku. Cukup di kepalaku saja aku puas memiliki pengganti yang lain dari anak-anak yang lain, lebih pintar dari yang lain.
            Kisah lain tentang Ma’il, betul-betul di luar dugaanku. Ia meminta ijin untuk ikut serta melaut hari itu. Aku pun terhenyak. Keinginannya muncul jauh lebih cepat dari yang kuperkirakan.  Harusnya sepuluh tahun lagi.
            “Bapak, Ma’il pingin ikut melaut!” rengeknya beberapa hari kemudian. Ia ingin sekali mencari ikan di laut. Ia juga ingin tahu, apakah benar di tengah laut orang membuang sampah.
Darimana asal ia berpikir sampah berasal dari tengah lautan? Ia pun bilang  selalu melihat sampah di kejauhan, di laut sana. Aku menolak keinginanya. Lagian, kau tak akan menemukan apapun, sebab sampah dibuang di sungai lalu ke laut. Walau begitu, Ma’il tak memercayaiku dan ngotot ingin turut melaut.
Setelah kupertimbangkan aku pun menyetujui. Bukankah  ini tujuanku? Aku mengijinkannya meski terlalu dini baginya mengungkap rahasia di tengah lautan yang gelap. Ia akan menjadi penangkap ikan, aku bangga, ia akan menjadi lelaki penakluk lautan.
            Baiklah, aku mengajaknya melaut malam berikutnya. Perahu telah lepas dari dermaga saat malam telah matang. Kulihat ia menatap jauh ke arah lepas pantai sana. Udara dingin dan arus yang sesekali mengguncang perahu kami menyesakkan dada karena panik. Kepanikan yang sama juga kudapati pada Ma’il meskipun  ia menutupi.  Sekilas, tak ada  kudapati  tanda-tanda sesal padanya.  
            Di penghujung kepanikan, kami melihat keriuhan  jauh di depan sana. Ma’il penasaran. Ia merengek untuk mendekatkan kapal. Aku sudah biasa melihat keriuhan itu. Namun, baru kali ini aku mau mendekatinya. Ma’il tampak terpukau melihat  segerombolan orang menggunakan bom untuk menangkap ikan.
Ma’il bilang salah satu perusak karang tempat tinggal hewan laut adalah bom yang digunakan penangkap ikan. Memang cepat mendapat banyak ikan, namun kerusakannya juga banyak dan lama memulihkannya. Akibatnya, ikan akan semakin sedikit sebab tak ada tempat tinggal lagi, tak ada tempat mencari makanan. Aku mendapati perbedaan pada diriku dan Ma’il. Aku melihat banyak hal di lautan lepas, namun baru menyadari kejanggalan-kejanggalan setelah Ma’il menunjukkannya dengan ilmu yang ia dapatkan di sekolahnya.
Ma’il juga berbeda dengan kawan-kawan sekelasnya. Ia tak puas membaca buku, tapi bersikeras untuk melihat apa yang terjadi di luar sekolah. Hasilnya ia pun mengerti jarak antara teori di bangku sekolah dan kenyataan di laut.  Ia pun menunjukkan bahwa sampah tak selalu berasal dari orang yang membuangnya ke sungai. Sebab aku  mendapati beberapa orang melemparnya di tengah lautan. “Ayah, ayo dekati mereka. Apa yang mereka buang?”
            “Hah! Buat apa, Ma’il? Tangkapan kita sudah penuh, lebih baik kau bantu ayah memisahkan ikan-ikan itu.” Aku mulai panik dengan keberanian anakku.
Ma’il menatapku. Di bawah temaram lampu kapal, kulihat wajah itu. Oh,wajah yang akan selalu kurindu dalam kenangan. Untunglah aku menurutinya saat itu, kuputar balik kapalku. Aku masih belum menyadari, Ma’il mengajariku menjadi manusia  penuh selidik, sebab aku juga penasaran dengan sebab-sebab orang-orang itu  melakukannya.
Setelah mendekati, mereka melihat kami. Rupanya orang-orang kampung yang tak asing. Aku ingat persis bagaiman mereka melempar bom dan membuang dua karung sampah termasuk plastik-plastik bekas. Kenapa mereka membom dan melempar sampah? Ma’il bertanya-tanya dalam gumam. Aku diam, meski aku tahu banyak penduduk kampung yang tak diuntungkan oleh kedatangan para turis. Bahkan turis-turis itu sungguh menyebalkan, mereka memotret-motret penduduk yang sedang memasak, berjalan kaki, tanpa memberi imbalan apapun. Sedangkan para pengangkut mereka mendapat persenan dari penduduk yang rumahnya disewa untuk menginap.   
   
Bersama Ibu
Lokasi: Kampung Eco Komodo

Ma’il saat itu hanya memandangi cumi-cumi yang teronggok.  Menghitungnya sambil cemberut kesal oleh ulah orang-orang itu. Ah, Nak. Seandainya kautahu alasan orang-orang itu. Tak beda jauh dengan alasan  orang-orang yang tetap menangkapi rusa dan kerbau di hutan  meski sudah diperingatkan  oleh pegawai Taman Nasional bahwa binatang-binatang  itu sumber makanan sang kadal. Tapi buat apa kita tahu? Hidup ini sudah terlalu runyam.

            Serunyam pagi hari itu, ketika kisah panjang kepiluan hidupku dimulai.  Ma’il pamitan bersekolah dan sejak itu tak kembali. Ia tak menyadari sepasang mata buas bersembunyi di balik semak belukar. Konon seekor kadal bengis mencium bau amis di tubuh Ma’il sisa  melaut pada malam sebelumnya. Maut pun akhirnya menjemput nyawa anakku setelah luka di kaki menyebar.
            Sampai sekarang kepedihan itu masih saja kurasakan. Dua tahun sudah berlalu, aku mengira-ngira, siapa yang salah? Para pemburu makanan komodo yang menjadikannya membuas di perkampungan? Ataukah para pembuang plastik dan pembom laut yang membuat  Ma’il penasaran dan bersikeras ikutan melaut? Ataukah aku yang selalu menginginkan dia menjadi bermental gagah? Entahlah.
Mail telah pergi. Aku sudah lelah mencari siapa yang salah. Yang aku bisa hanya melanjutkan kegiatan pagi bersama Ma’il dalam rupa bebayangan. Sambil mengikuti kemauan sang waktu membawaku ke ajal. Sampai tak lagi ada sampah, tak ada perburuan kijang, tak ada lagi perusakan terumbu karang dengan bom. Tak ada yang perlu dikeluhkan. Hanya damai yang tersisa di bumi ini.   
Labuan Bajo-Denpasar, 2017

Comments

Paling Sering Dibaca

5 Kesalahan Saat Berlibur di Bali

Bertemu Komodo Bermodal Shopfest dari Shopback

Kesalahan Saat Memesan Hotel