Koper Tua

untuk almarhumah nenek

            Koper itu tergeletak di atas meja sudut kamar. Tampilannya sudah kusam. Mama tidak pernah menyentuhnya, meskipun sering membersihkan kamar ini. Begitu juga Papa dan kakak. Semua orang tak boleh menyentuhnya, kecuali nenek.
            Nenek pernah memarahi mama karena mengelapnya. “Jangan sekali-kali kausentuh koper itu!” cerita Mama menirukan kata-kata nenek. Itulah mengapa ia melarang semua orang membersihkan kamarnya. Seisi rumah heran, apa sebenarnya isi koper itu. Namun tak berniat menanyakannya pada nenek. Sebab, membahas koper itu saja  membuat nenek berang bukan kepalang.
            Lebaran lalu misalnya. Kami semua berkumpul di meja makan setelah sholat Ied dan maaf-maafan. Nenek tampak gembira pada awalnya. Namun setelah papa iseng bertanya, “sebenarnya apa isi koper itu, Mbok?”
            Wajah nenek langsung muram. Tanpa basa-basi meninggalkan ruang makan. Seharian tak mau bicara. Walaupun sudah diingatkan hari lebaran tak boleh  ngambek, nenek tetap saja tak bergeming. Kami pun tak pernah membahasnya lagi.
            Setelah kepergian kakek, nenek tinggal bersama kami.  Mama dan Papa  berpikir, nenek perlu kawan agar tak kesepian. Namun nenek malah bertingkah sangat aneh. Seperti tidak terlalu banyak bicara. Jalan-jalan sendirian di pagi hari. Yang paling aneh adalah larangannya kepada siapapun untuk menyentuh koper besi tua miliknya.
            Hari ini adalah hari ke seratus nenek tinggal di rumah kami di Medan.  Mungkin nenek sedang baik, Kamarnya boleh dibersihkan oleh Mama.  Tatapan Nadin tak beralih dari koper besi tua. Koper yang menyimpan misteri.
            “Ma,” kata Nadin dengan senyum jail. “Bagaimana kalau kita buka koper itu diam-diam?”
            Mama terkejut dengan ide Nadin. “Jangan, Nadin! Kau tak lihat macam mana nenekmu itu marah-marah?”
            “Mama tidak penasaran dengan isi koper itu?” Nadin memancing.
            Mama menelan ludah. Dalam hatinya, mama juga penasaran. Namun begitu ingat nenek akan marah, dihapusnya rasa ingin tahu itu.
            “Nenek tak akan lihat, Ma. Beliau sedang jalan-jalan pagi,” rayu Nadin. “Ketahuan pun, nenek tak akan marah. Mama bilang saja Nadin yang mau lihat!” Namun mama tetap menolak. Gagal pula keinginan Nadin untuk melihat isi koper tua  milik nenek.
             Pagi hari berikutnya, Nadin bangun lebih awal dari biasanya.  Ia menuju dapur, dan mendapati mama.  Dijerangnya teh Jawa kesukaaan nenek dalam sebuah poci. Lalu ia mengambil beberapa keping biskuit jahe. Mama heran dibuatnya.
            Ya, sejak pagi itu Nadin menyiapkan sarapan untuk nenek sebelum jalan-jalan pagi. Diketuknya pintu kamar nenek. Nenek tersenyum menyambut.
            “Wah, makasih, Nadin!”
            Nadin tahu benar kebiasaan nenek pagi hari. Makan kue jahe ditemani teh panas. Nenek gemar sekali mencelupkan kue itu ke dalam teh yang masih beruap. Kue jahe menjadi lembek dan bisa dimakan hangat-hangat. 
            Pandangan Nadin melayang ke koper tua. Diam-diam Nenek mengamatinya. “Nadin pasti penasaran,ya?”
            Nadin terkesiap. “Eh, enggak kok, Nek!” katanya terbata-bata. Ia takut membuat Nenek marah.
            Nenek bangkit. Langkah kakinya menuju ke arah dimana koper tua berada. Nenek menarik tuas koper tua itu. Terdengar deritan besi tua saat tangan keriput itu membukanya perlahan.
            Nadin penasaran. Perlahan ia melangkah mendekati nenek. Ia menebak-nebak apa isi koper itu. Mungkin kah keris jawa peninggalan mbah kakung? Atau mungkin benda-benda keramat yang biasa dipunyai orang jaman dulu? Yang pasti isi koper itu sangat penting bagi nenek.
            “Lihatlah, Nadin!”
            Nenek memperlihatkan foto yang menguning karena usia. Tampak seorang wanita berpakaian adat jawa memandang dengan tatapan serius. Ia tengah memangku anak kecil. Di sampingnya ada sebuah meja kecil dengan poci dan cangkir serta makanan kecil. Lalu duduk di sebelahnya seorang lelaki yang menatap dengan serius.
            “Ini aku, bapakmu, dan...” Nenek tersenyum. “Mbah Kakung.”
            Baru tiga bulan lebih sepuluh hari  mbah Kakung pergi. Bagi nenek sehari serasa sebulan. Waktu menjadi terasa lama tanpa mbah Kakung.
            “Dulu, mbah kakungmu lah yang sering membawa oleh-oleh kue jahe. setiap pulang dagang kerbau. Saat itu, kue itu hanya bisa ditemukan di kota saja.. Kami sering menikmatinya saat pagi-pagi sehabis subuhan,” kenang Nenek. Karena senang sekali, mereka mengundang juru potret dari kota menginap dan mengabadikan momen ini pagi-pagi.
            Nenek mengusap air hangat yang mengalir di ujung matanya.
            “Syukurlah, masih ada ayahmu. Si bayi mungil yang sekarang sangat sibuk. Sangat sibuk,  sehingga tak sempat menemani nenek minum teh, hehehe” tawa nenek janggal. Ada duka mendalam terdengar di sana.



            Nenek tampak berkaca-kaca. Betul kata ibu, nenek akan merasa kesepian di rumah. Di rumah masih ada Nadin, mama, dan ayah pun nenek masih merasa sendirian menikmati teh dan kue jahe sambil memandangi koper tua tiap pagi.
            “Maafkan ayah ya, Nek. Nadin janji, akan menemani nenek jalan pagi pas libur dan minum teh. Nadin juga akan bilang ke ayah untuk sesekali meluangkan waktu untuk nenek,” ujar Nadin.
            Nenek tersenyum bahagia.
            Nadin juga. Ia pun mengetahui bahwa semua yang disimpan di koper tua itu adalah barang-barang  yang memiliki sejarah nenek. Ada kain dan kebaya yang dipakainya saat menikah dengan kakek. Ada foto-foto tua bersama kakek dan ayah hingga foto pernikahan ayah.
            Nadin memeluk nenek. Tak kuasa ia pun  menangis. Ia menyesal tak mengetahui betapa nenek sangat menyayangi keluarga ini. Namun nenek jarang mendapat perhatian ayah, mama dan juga Nadin. Untunglah ada koper tua itu, yang menjadi senjata untuk mendapatkan perhatian mereka. 

Comments

Paling Sering Dibaca

5 Kesalahan Saat Berlibur di Bali

Bertemu Komodo Bermodal Shopfest dari Shopback

Kesalahan Saat Memesan Hotel