Catatan Nadin Céngkré

untuk Nadin Aleta Justitia
           
            Pagi-pagi aku bangun. Biasanya, aku langsung menangis. Sepertinya memang ini kegiatan rutinku: bangun pagi, menangis, makan, kejar-kejaran dengan kak Cipa, memukulnya dengan apapun sampai menangis. Semua orang memeluknya. Semua orang memarahiku. Aku menangis. Tidur lagi. Bangun. Mengulangi kegiatan dari awal tadi.
            Untungnya rumah kakung cukup besar. Jadi, aku tidak bosan tinggal disini. Meskipun setiap hari, melakukan hal yang sama dan mengalami hal yang tak jauh berbeda. Hingga suatu hari, om aku datang ke rumah ini.
            Aku amati dia dari atas kepala sampai kaki. Rambutnya aneh. Ikal-ikal ruwet, mengingatkanku pada mie goreng buatan mama. Perutnya buncit. Mirip Cik Gung, mamanya kak Cipa, saat hamil. Sekarang dedek-nya cik Gung sudah lahir. Jadi, tinggal kakung, oma dan om aku itu yang mirip ibu hamil. Pipi mereka mirip pipiku, seperti bakpao.
            Aku sangat sayang sama oma. Gemar sekali aku tidur bersamanya. Lebih anget dikeloni oma dibanding mama. Mama sudah tidak sayang lagi sama aku. Aku minta dibuatin susu, mama bilang, bentar ya, mama bikin susu buat dik Danis. Aku minta dibikinin mie goreng, mama bilang: bentar ya, mama sedang mengganti popok di Danis. Aku minta dibacain dongeng, mama berkata: bentar ya, mama sedang nyusuin dik Danis. Aku minta dicebokin, mama menyahut: kak Nadin sudah besar, cebok lah sendiri. Lihat, dik Danis harus mama kelonin biar bobok. Semua serba dik Danis.
            Aku pukul dik Danis pakai kayu. Dik Danis menangis. Mama berteriak, “kak Nadin gak boleh nakal, ya. Mama pergi lho, sama dik Danis!”
            Mama betul-betul tidak menyayangiku. Aku menangis. Oma datang dan membopongku. Lalu mencebokin aku. Selesai. Aku sayang oma. Benar-benar sayang Oma. Oleh sebab itu, aku akan menangis setiap kali bangun tidur oma tidak di sampingku.
            Lalu mendadak muncul Om aku yang baru datang kemarin malam. Ia bertanya kepada mama, kenapa dik Danis menangis. Mama menjawab, “tuh, dipukulin Nadin.”
            “Aduh, Nadin...,” om aku melihat padaku. “Kok, dipukul dik Danis?”
            “Gara-gara Mama....” jawabku.
            “Nadin, tidak boleh nakal gitu.”
            “Mama sih,” sahutku.
            “Jangan nakal, ya, Nadin cantik,” kata Om aku sambil mengusap rambutku. Aku tidak mengerti. Semua orang sangat peduli sama dik Danis, kak Cipa. Padahal gara-gara mereka aku tidak diperhatikan. Aku tidak disayang-sayang.
            “Kalau nakal?” tanyaku.
            Om aku langsung menjawab, “kalau nakal, om panggil Nadin Céngkré”
            “Kalau gak nakal?”
            “Kalau gak nakal, om panggil Nadin Cantik.”
            “Kalau nakal?”
            “Nadin Céngkré!”
            Aku sebal sekali sama om aku. “Enggak, lho. Aku kakak Nadin Cantik tapi bukan sok cantik. Aku panggil om Céngkré!”
            Oma dan Mama tertawa. Om aku jengkel bukan main. “Kok aku yang céngkré? Dasar Nadin Céngkré!”

            Sejak itu, aku benci sangat sama om aku

Comments

Paling Sering Dibaca

5 Kesalahan Saat Berlibur di Bali

Bertemu Komodo Bermodal Shopfest dari Shopback

Kesalahan Saat Memesan Hotel