Traveller Jaman Now Harus Jadi Mandiri


        Jiwa mandiri sangat dibutuhkan ada pada setiap orang. Termasuk saya. Jadi mandiri bukan hanya sekadar pilihan melainkan keharusan. Apalagi saya tidak tinggal serumah dengan orangtua sejak SMP.
Wat Rong Khun atau White Temple, Chiangrai
Akan tetapi, pasang surut dan tuntutan kehidupan semakin menekan jiwa dan raga untuk terus berpacu dengan waktu belakangan ini. Lengah sedikit akan sangat fatal akibatnya. Sebab itu, bermunculan penderita stress dimana-mana, mulai dari yang ringan hingga yang berat. Seringan apapun stress tetaplah memiliki potensi mengganggu kejiwaan setiap orang di jaman yang dikenal sebagai jaman now ini.
            Berbagai cara pun dilakukan agar orang terhindar dari gangguan stress yang akut. Salah satunya adalah dengan travelling. Awal mulanya, travelling mengacu pada kegiatan perpindahan seseorang dari satu tempat ke tempat lain dalam kurun kurang dari setahun dan bertujuan mendapatkan pengalaman baru. Seiring perkembangan jaman, tujuan travelling tidak sesederhana itu lagi. Tetapi, memiliki tujuan yang lebih banyak seperti melepaskan kejenuhan, berbisnis, maupun mendapatkan inspirasi.
            Sebagai traveller jaman now, saya juga pernah hampir dibuat stress saat liburan. Ya, alih-alih menghilangkan  stress, liburan pun justru semakin membuat suram hidup. Salah satu contoh pengalaman pernah saya alami adalah ketika mengunjungi  Chiangrai, sebuah provinsi paling utara di Thailand.
Travelling Sendirian, siapa tak
Terus terang, kepergian saya kala itu tidak saya rencanakan. Satu-satunya tujuan ke Thailand saat itu adalah kota Bangkok. Hanya karena saya melihat gambar kuil berwarna serba putih di salah satu majalah airlines, saya nekad membeli tiket pulang-pergi Bangkok-Chiangrai dan menginap semalam di dekat komunitas muslim di Chiangrai. Sendirian. Baiklah, ada sopir sekaligus pemandu namun tidak menemani sepanjang waktu. Saya tidak berpikir bahwa tempat seperti ini biasanya tidak menyediakan fasilitas selengkap kota Bangkok. Selain itu, saya kendala bahasa membuat saya agak susah bertransaksi dengan cash. Seandainya ada pun, belum tentu bisa melakukan transaksi pembayaran tiket online maupun akomodasi. 
Setibanya di bandara Mae Fah Luang Chiangrai International Airport, saya mencari jasa angkutan untuk ke White Temple atau Wat Rong Khun. Begitu mereka menagih pembayaran, saya hanya memiliki beberapa baht saja. Sedangkan  kartu kredit bank mandiri saya tidak bisa berfungsi karena jatuh tempo pembayaran. Pada saat itu, saya langsung mencari mesin  ATM. Begitu ditemukan, saya ingat biaya transaksi sangat tinggi.  Saya juga tidak ingin memiliki catatan buruk dari bank.
Untunglah ada Mandiri Online, layanan integrasi dari Mandiri Internet dan Mandiri Mobile yang menghadirkan kenyamanan dalam memperoleh informasi maupun melakukan aktivitas transaksi finansial. Singkat kata, hanya dengan layanan dalam satu Smartphone Apps transaksi menjadi jauh lebih mudah dan cepat. Saya tidak perlu buka web browser dan token untuk belanja bayar online. Namun cukup mengaksesnya dengan aplikasi smartphone (dapat diunduh di Google Play maupun Appstore) serta  menggunakan MPIN sebagai kode otentikasinya.
            Selain keuntungan di atas, ada beberapa keuntungan lain. Pertama, teknologi OOB atau Out Of Band  menjamin keamanan bertransaksi baik menggunakan token maupun MPIN untuk mobile apps. Kedua, transaksi online memungkinkan kita untuk membayar listrik, pulsa, angsuran kredit dimanapun dan kapanpun secara real-timeKetiga, fitur transfer ke sesama bank mandiri maupun bank lain menjadi lebih mudah. Keempat, bagi yang ingin top up e-money dan e-cash bisa dilakukan dalam satu aplikasi. Kelima, pembukaan deposit serta MTR pun bisa dilakukan dengan penggunaan sistem terintegrasi ini. Keenam, para nasabah tidak perlu repot mengantri di bank untuk melihat histori transaksi kartu kredit, saldo dan mutasi rekening bank.
Untuk memperoleh kemudahan transaksi mandiri online ini ada beberapa tahap. Saya harus mendaftarkan diri di kantor cabang terdekat bank Mandiri pada jam kerja dengan membawa KTP, buku tabungan  dan kartu debit bank mandiri yang masih aktif. Setelah itu, saya  dapat melakukan aktivasi online pada aplikasi Mandiri Online melalui smartphone  pribadi.
      Terus terang saya sangat terbantu oleh Mandiri Online. Terutama saat harus membayar tagihan-tagihan saya pada saat liburan sekalipun. Semua bisa dilakukan sendiri tanpa harus menghubungi dan merepotkan orang rumah untuk melakukan pembayaran.
Mae Fah Luang Chiangrai International Airport
Saya pun melanjutkan perjalanan menuju kuil Budha berwarna putih yang terkenal itu. Menurut kisah sopir sekaligus pemandu saya,  Kuil ini ditemukan dalam keadaan sangat parah pada akhir abad ke-20. Adalah Chalermchai Kositpipat, seorang seniman lokal, yang menyumbangkan dana pribadinya sebanyak 40 juta baht untuk merenovasi kuil tersebut. Namun, jumlah tersebut masih jauh dari cukup untuk melaksanakan proyeknya. Berkat bantuan dari berbagai pihak, akhirnya sebuah kompleks kuil putih pun berdiri tegak.
            Pertama kali memasuki halaman kuil, saya disambut kolam tak berair yang terbelah oleh jalan setapak memasuki kuil. Di dalam kolam tersebut, tampak patung-patung tangan manusia menjulur ke atas. Konon, patung-patung tersebut melambangkan dunia bawah yang penuh penderitaan. Lalu, dua patung raksasa si Baik dan si Jahat menyambut. Begitu melewati jembatan, saya merasa seperti berada di tempat yang sangat sempurna indahnya. Nirwana. Ukiran begitu detail berpadu dengan ornamen dinding yang menjulur bak jemari lentik perempuan cantik. Karya agung sang seniman yang sungguh membuat saya takjub.
Perhatian saya pun tertuju pada sepasang patung setengah burung setengah manusia. Yang jantan bernama Kinara dan yang feminim adalah Kinari. Kedua makhluk yang sering direliefkan di kuil-kuil Budha dan sebagian kuil Hindu. Di Borobudur dan Prambanan, misalnya, keduanya digambarkan sebagai dua makhluk yang gemar memainkan alat musik. Konon kedua makhluk mitologis ini pernah menangis hingga mengacaukan jagat raya  karena terpisah dan saling mencari satu sama lain. Pencarian yang berujung pada pertemuan di bawah naungan Kalpataru (pohon kehidupan) menginspirasi saya menerbitkan secara indie sebuah kumpulan cerita pendek berjudul Petuah Kinara dan Kinari.
Benar sekali. Selain travelling, saya juga mengatasi stress dengan membaca serta menulis. Tulisan-tulisan saya meliputi cerpen dan artikel-artikel non-fiksi seperti yang saya tulis ini. Tulisan ini merupakan hasil dorongan Bank Mandiri yang mengadakan lomba menulis artikel blog. 
Selain itu, BankMandiri menjadi satu-satunya bank di Indonesia yang memediasi hobi menulis. Adalah program Jadimandiri yang menyediakan informasi penting berkaitan dengan dunia wirausaha, keuangan, produktivitas dan wisata. Disanalah saya memiliki kesempatan menuangkan kegemaran menulis bertema pariwisata.
Jadi, bagi yang memiliki hobi membaca dan menulis seperti saya, Jadimandiri adalah kesempatan emas untuk menuangkan ide-ide brilian sesuai tema favorit. Tapi ingat, tulisan harus memenuhi poin-poin sebagai berikut : panjang tulisan antara 350-800 kata, menyertakan dua gambar pendukung, tulisan merupakan hasil karya asli (bukan hasil meniru karya orang lain) dan belum pernah dimuat di media manapun, menyertakan nama dan profil sebaris sampai dua baris di akhir tulisan. Jangan lupa, sertakan akun facebook, twitter ataupun instagram! Selengkapnya kalian  bisa melihat di web Jadimandiri.



Comments

Paling Sering Dibaca

Catatan Nadin Céngkré

3 Resep Awet Sehat Bule 75 Tahun dan Alasan Menggunakan Hydrogen Atom

5 Alasan Batik Lebih Baik