Midget Boxing Bali Sebuah Kebanggan Ataukah...?


Pernahkah ke Legian Bali? Hampir semua menjawab pernah. Namun, menonton Midget Boxing Bali. Belum tentu ada yang menjawab pernah. Selesai menonton pertunjukan ini, saya justru merenung: ini sebuah kebanggaan ataukah...?

Pertunjukan Midget Boxing di Salah Satu Bar di Legian
          Sepanjang trotoar di Legian Bali tidaklah pernah sepi. Pada low season sekalipun, daya tarik tempat ini tetaplah memikat wisatawan, mancanegara maupun domestik. Saat siang, para surfer dari belahan dunia menjajal ombak pantai. Ribuan orang memenuhi tepian pantai ketika waktu mendekati sunset. Pun tatkala malam menjelang. Gelap justru menjadi awal kehidupan disini. Yah, meskipun terkenal macet, Legian tetaplah  tujuan wisata malam yang ikonik di Bali.
          Adalah satu bar yang menarik perhatian saya di kawasan Legian, Bali. Satu per satu wistawan memasuki bar tersebut. Saya termasuk di antara pengunjung. Kami harus reservasi meja terlebih dahulu saking tenarnya bar satu ini.
Saya melirik sebentar ke tangan, jam menunjukkan pukul enam sore. Di sinilah  pertunjukan yang tak biasa digelar. Midget Boxing. Pertunjukan yang menjadi magnet bar ini kerap dikunjungi wisatawan, terutama wisatawan mancanegara.
         Midget dalam bahasa Inggris berarti orang kerdil. Sedangkan Boxing adalah Tinju. Tidak salah lagi. Setelah membayar enam puluh ribu rupiah, saya dan yang lain akan menonton pertujukan tinju. Bukan pertunjukan atlet tinju biasanya. Melainkan perhelatan tinju orang-orang bertubuh pendek.
          Baiklah. Saya juga pendek. Namun mereka benar-benar pendek, jauh lebih pendek dari tubuh saya. Mula-mula muncul presenter yang dengan ramah memperkenalkan diri sekaligus membuka acara. Para penonton tertawa melihatnya untuk kali pertama. Kemudian suasana makin riuh saat atlet tinju yang pendek-pendek muncul. Selanjutnya bisa ditebak, pertunjukan ini diwarnai oleh gelak.
         Saya melihat sekeliling. Ternyata saya adalah yang terpendek di antara penonton. Saya berhenti tertawa. Lihatlah, atlet-atlet pertunjukan ini. Mereka pasti sudah biasa ditertawakan karena ukuran tubuh yang kerdil. Tapi mereka harus hidup. Menjadi pemeran pertunjukan dagelan pun menjadi salah satu pilihan.
          Dari sisi bisnis pariwisata, pertunjukan Midget Boxing sudah menjadi something to see yang sukses. Tiket hampir selalu sold out beberapa hari sebelum pertunjukan dimulai. Hal ini juga berpengaruh pada produk lainnya di bar tersebut, seperti: makanan dan minuman. Dengan demikian, kriteria something to buy  dan somenthing to do pun telah dipenuhi dengan baik.
Lepas dari itu. Ada yang mengganjal di benak saya: semua orang pasti ingin hidup normal. Salah satunya adalah tumbuh dengan wajar memenuhi ukuran standar umumnya manusia.  Akan tetapi banyak hal yang menyebabkan alam tidak mengabulkan keinginan tersebut. Jika, faktor genetik yang diyakini sebagai satu-satunya penentu kekerdilan, maka pembahasan akan berhenti disini. Selesai.
          Namun, pembahasan masih akan terus berlanjut kalau dijumpai banyak orang kerdil atau stunting di suatu komunitas. Sebab, bisa jadi ini merupakan dampak kurang gizi kronis. Menurut Ikatan DokterAnak Indonesia tinggi badan yang ideal anak dapat diukur dengan rumus:  untuk anak laki-laki = ( Tinggi Badan Ayah  + (Tinggi Badan Ibu+13)) X ½ + 8,5 . Sedangkan untuk anak perempuan = (TB Ayah+(TB Ibu-13)X1/2) + 8,5. Ukuran tersebut dalam centimeter. Misal, seorang anak anak laki laki memiliki tinggi 158cm. Ia memiliki tinggi minimum standar jika tinggi ayahnya 160cm dan ibunya 160cm. Penghitungannya adalah: (160+(160+13)) X1/2= 166,5cm sebagai tinggi rata-rata. Berdasarkan rumus diatas, untuk tinggi minimum standard dikurangi 8,5cm, sehingga didapat 158cm. Sebaliknya, tinggi maksimum standar didapat dari pengurangan 8,5cm. Dapat disimpulkan bahwa, rentang tinggi standard dari anak laki-laki tersebut harus di antara 158cm hingga 175cm sehingga bisa disebut tumbuh dengan normal.
          Beberapa penelitian menyatakan bahwa faktor keturunan tidaklah memegang peranan paling  penting dalam tumbuh kembang seorang anak. Salah satunya  jurnal penelitian UNAIR oleh  Ni’mah dan Nadhiroh  di wilayah kerja Puskesmas Tanah Kali Kedinding, Surabaya tahun 2016. Stunting justru merupakan penggambaran status kurang gizi yang kronis pada masa pertumbuhan dan perkembangan sejak awal kehidupan. Hasilnya sungguh mengejutkan. Stunting dialami oleh balita yang tidak mendapatkan ASI Ekslusif, berasal dari keluarga pendapatan rendah, pendidikan ibu yang rendah, pengetahuan ibu akan gizi yang rendah.
          Berita baiknya, UNICEF menyatakan bahwa  Indonesia telah berada di jalur yang benar dalam mewujudkan tujuan pertama dari  Tujuan Pembangunan Milenium sejak tahun 2010 tentang pengurangan berat badan anak berusia di bawah lima tahun.  
Berita buruknya, pada portal informasi yang sama, UNICEF juga menyatakan bahwa  Indonesia menduduki peringkat kelima dalam hal jumlah anak yang memiliki keterhambatan pertumbuhan tubuh. Diperkirakan 7,8 juta anak di Indonesia yang terhambat pertumbuhannya.  Sungguh mengenaskan, mengingat Indonesia  dikenal kaya akan sumber gizi.
   Menurut Menteri Kesehatan RI, Prof. Dr. dr. Nila Farid Moeloek, M.Kes.,  kekerdilan badan ini juga mempengaruhi perkembangan otak. Artinya, anak-anak penderita stunting biasanya kurang cerdas. Jelas, stunting merupakan ancaman besar bagi ketahanan bangsa. Data kementerian kesehatan tahun 2013, empat dari sepuluh anak Indonesia menderita stunting. Atau sekira 37,2 persen. Kelak, tahun 2019, pemerintah mengharapkan prevalensi stunting sudah turun dari angka tersebut menjadi 28 persen.
         
Salah satu kegiatan
Kampanye Nasional Pencegahan Stunting 
Cita-cita tersebut harus diwujudkan dengan banyak perjuangan. Kampanye anti-stunting oleh kementerian kesehatan pun digalakan melalui berbagai forum. Misalnya, Kampanye Nasional Pencegahan Stunting di kawasan Monas tanggal 16 September silam. Pada kesempatan tersebut, Gubernur DKI, Anies Baswedan turut hadir. Beliau membuat pernyataan mengejutkan. Stunting  dialami oleh anak-anak di ibu kota sekalipun. Yah, meskipun masih di bawah rata-rata nasional. Oleh sebab itu, beliau menandaskan bahwa permasalahan ini harus segera dituntaskan.
          Tidak hanya tokoh-tokoh tersebut yang menabuh genderang perang melawan stunting di Indonesia. Tetapi juga tokoh-tokoh lain, seperti Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko, Wakil Gubernur DIY, Sri Paduka Pakualam X, dan lain sebagainya. Bahkan, saking seriusnya masalah stunting ini, Wakil Presiden, Jusuf  Kala pun tak segan mengatakan bahwa membicarakan pencegahan stunting sama dengan membicarakan masa depan bangsa. Dan pernyataan tersebut benar sekali, mengingat stunting erat kaitannya dengan masalah perekonomian  serta rendahnya pengetahuan tentang gizi di negara Indonesia yang dikenal kaya raya ini.
         
Pencegahan Stunting
Aksi Simbolis Komitmen Bersama:
Pencegahan Stunting
          Stunting sebenarnya bisa dicegah melalui 3P: pola makan, pola pengasuhan, dan perhatian terhadap kebersihan. Pola makan dimulai dari ibu hamil. Gizi, terutama protein, merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi sejak 1000 hari sejak kehidupan anak. Bu Menteri Kesehatan pun setuju dengan Bu Menteri Kelautan dan Perikanan. Ikan laut dan makanan laut  merupakan sumber protein yang bagus untuk pencegahan stunting. Hal ini beliau sampaikan dalam kesempatan Stunting Reduce on World Bank Talkshow tanggal 19 September 2018 lalu.
Pola pengasuhan juga diperlukan dalam pencegahan stunting, terutama cek kesehatan berkala pada ahlinya. Perhatian orangtua terhadap kebersihan anak pun mempengaruhi, sehingga parasit tidak masuk ke dalam tubuh dan mengganggu penyerapan gizi dalam tubuh si anak.

Tantangan: Komitmen Bersama  Memutus Rantai Stunting
Saat libur tiba, pergilah ke Bali. Lalu masuklah ke kawasan Legian untuk melihat pertunjukan  orang kerdil yang, mungkin  buat anda, sangat kocak. Sesaat, anda boleh merenung sejenak. Lalu anda pun akan berkata, “ah, ini gila!” Ada cerita yang sama sekali tidak lucu yang anda temui. Pertunjukan ini babar blas tidak membanggakan. Kita sedang memamerkan masalah serius di negeri ini, yang dibungkus dengan adegan kocak penuh gelak, menjadi produk ‘something to see’  penarik wisatawan.
Sebut saja Alan. Salah seorang pemain pertunjukan Midget Boxing. Beliau punya impian sama seperti orang-orang lainnya. Memiliki keturunan dengan ukuran tubuh dan kecerdasan seperti yang lain. Dibutuhkan satu kalimat untuk mewujudkan impian itu: komitmen bersama mencegah stunting demi Indonesia sehat
Melalui tulisan ini, saya mencoba mengurai masalah stunting dari sudut pandang saya pribadi. Saya berharap pertunjukan Midget Boxing di Legian ataupun lelucon orang kerdil manapun tinggal menjadi sejarah di Indonesia suatu hari nanti. Sebab tak ada lagi stunting di negeri ini. Saya yakin, pasti bisa. Semangat!



Comments

Hotest Articles

5 Kesalahan Saat Berlibur di Bali

5 Alasan Batik Lebih Baik

Traveller Jaman Now Harus Jadi Mandiri

Contact Me

Name

Email *

Message *