Berwisata dan Sholat di Pura Langgar Bangli: Pesona Ramadhan 2018



Langgar dalam Pura
Bukti monumental toleransi di Bali  yang memesona
foto: merdeka
Bali dikenal sebagai pulau dewata yang memiliki ribuan pura. Tak jarang, pura memiliki fungsi sebagai tempat sembahyang sekaligus daya tarik wisata. Pura yang menarik wisatawan biasanya memiliki arsitektur yang unik, nilai historis yang tinggi dan menyimbolkan nilai-nilai luhur. Pura yang patut dikunjungi saat bulan ramadhan ini adalah Pura Langgar. 
            Pura ini terletak  sekitar 20 menit berkendaraan mobil dari  kota Bangli, Bali, ke arah selatan. Tepatnya, pura ini berada di sisi timur jalan raya dan masih harus memasuki gang yang hanya bisa dilewati satu mobil. Sehingga, harus lumayan berjuang.
            Namun begitu sampai disana, saya dibuat takjub. Betapa tidak, pura ini memiliki langgar yang terletak di dalam kompleks pura. Mungkin, ini satu-satunya bangunan yang menyimbolkan kerukunan umat beragama kaum muslim dan Hindu sejak abad ke-17.
            Pura yang disebut juga Pura Dalem Jawa ini dibangun di atas kolam dengan banyak tanaman teratai. Konon, Pura Langgar berdiri karena keterikatan antara Kerajaan Bunutin dan Kerajaan Blambangan di Banyuwangi, Jawa Timur. Saat itu, Raja Kerajaan Bunutin adalah Ida I Dewa Mas Blambangan masih keturunan kerajaan Blambangan yang sakit keras sebelum akhirnya mangkat. Beliau membangun tempat peristirahatan (maqam) untuk sahabatnya, Ida Mas Wilis Blambangan, di dalam langgar. Menurut pemandu saya, bapak Gde Oka, bentuk pura ini menyerupai Mushola. Namun direnovasi sekitar tahun 1920 karena insiden kebakaran.  Pura ini dilengkapi dengan beberapa fasilitas bagi pengunjung muslim yang berkunjung, seperti area  parkir, tempat wudhu dan sholat. Jadi tidak perlu khawatir ibadah keteteran saat liburan.
           
Kolam Teratai yang menyejukan bagi yang memandangnya
Sumber: balitemple
Oh iya, bulan Ramadhan tahun ini bertepatan dengan hari raya Galungan dan Kuningan. Sebab itulah pura begitu ramai orang memakai baju adat Bali serba putih sedang bersembahyang. Ada yang menarik, olahan babi yang akrab dengan ritual perayaan Galungan tidak ditemukan di pura ini. Kata salah satu penduduk yang habis selesai sembahyang, tradisi ‘Galungan’ tanpa babi ini untuk menghormati keberadaan langgar di dalam pura. Mereka tahu betul, Babi dan alkohol adalah makanan dan minuman yang diharamkan untuk dimakan umat muslim. Saking tidak ingin menyakiti perasaan umat  Islam, Babi pun tak tersaji disana, tetapi di bagian pura yang lain.
            Disini, saya benar-benar memahami apa arti salah satu prinsip Trihita Karana, pawongan yang dipegang teguh umat Hindu. Mereka tahu caranya membina keharmonisan hubungan antar-manusia. “Ibaratnya, makan babi di depan kawan yang muslim bisa menyakiti hati, lebih baik tidak makan sama sekali. Jika harus makan, di tempat lain. Supaya tidak tersinggung!” ujar salah satu penduduk.
            Padahal, saya tidak terlalu ambil pusing mereka memakannya. Namun, ya sudahlah, itulah cara mereka menyambut kita, umat muslim, untuk menjadi bagian dari masayarakat Bali. Hmmm, saya kembali ke Denpasar dengan pelajaran yang sangat berharga.

Disclaimer: artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Pesona Ramadhan yang diadakan oleh Generasi Pesona Indonesia  dan Kementrian Pariwisata Indonesia

Comments

Hotest Articles

5 Kesalahan Saat Berlibur di Bali

Bertemu Komodo Bermodal Shopfest dari Shopback

Traveller Jaman Now Harus Jadi Mandiri