Cindy Mei (Bagian I)


I

            Kereta dari Jogja melaju menembus kelamnya malam. Lihatlah lampu lampu berjalan di balik kaca jendela. Sosok itu nampak terdiam menikmati barisan diluar sana.  Rumah-rumah, bayang bayang pohon hitam berjejer saling berlari melawan arah.  Sesekali ia membenahi posisi duduknya di kursi yang seolah menelan sekujur tubuh. Suara lelaki parau karena kantuk terdengar: sebentar lagi kita akan sampai di stasiun Banyuwangi Baru.
            Perempuan itu terkesiap. Ia menjulurkan tubuhnya dan bangkit menggeliat. Tangannya cekatan melipat selimut dan merapihkan tempat duduknya. Kondektur kereta api tak tega melihatnya memanjat kursi mencoba meraih tas hitam penuh di atas kabin kereta.
            “Boleh saya bantu, Mbak?”
            Perempuan itu menoleh. Tampak ia nyengir. “Terimakasih, Pak!” ucapnya. Ia kembali duduk dan disamping tasnya.
            Kereta api berhenti.  Penumpang yang masih tersisa pun mengosongkan gerbong. Ini kereta ekonomi Sri Tanjung yang jadwal terakhir di Banyuwangi.
            Perempuan tadi menerobos orang-orang yang sibuk menawari jasa ojek dan taksi menuju pelabuhan Ketapang. Berulangkali pula ia menjelaskan tidak hendak menuju pelabuhan. Langkahnya melaju di atas jalan keluar stasiun Banyuwangi Baru. Ia pun mencoba mengingat-ingat setahun silam, ia dan kawan-kawannya nekad ke Pulau Bali. Takut gelap, mereka menginap di sebuah penginapan kecil. Sambil mengingat ingat penginapan yang mana, ia pun terus melangkah. Kaos putihnya menguning oleh lampu di tepi jalan.
            Matanya berbinar ketika mendapati papan bertuliskan Bunga Biru. Di sekelilingnya lampu warna warni berkelap kelip. Ia ingat betul penginapan ini penginapan yang sama dengan penginapan setahun silam.
            Si penjaga penginapan tampak terkejut mendapatinya datang. Sesosok mungil membawa tas yang sangat besar dibanding tubuhnya mendekatinya, “Permisi! Masih ada kamar kosong?”
            Si penjaga mengangguk. Dilihatnya sekali lagi perempuan di depannya. Matanya sipit, hitam rambutnya, kulitnya putih. “Pernah disini, ya?”
            “Iya, Mas. Kalau repeater dapat korting?”
            Si Mas penjaga terkekeh. “Ndak ada, Mbak. Lagi sepi!” Lalu memberikan kunci dan meminta KTP perempuan itu yang sudah masuk ke kamar yang ditunjuknya. Ia pun melihat sekali lagi KTP itu. Tanpa sadar ia mengeja namanya, “Cindy Mei!”

***
Suara kicau burung terdengar sayup sayup. Suara lainnya adalah orang-orang yang melalui gang sempit. Suara kendaraan berlalu lalang dengan klakson yang menjerit sesekali mengalahkan suara kokok ayam. Di antara keriuhan itu, sesekali terdengar suara mendengung yang mengingatkannya pada suara kapal dalam film Titanic.
            Cindy bangkit. Ia pun membuka tas  bawaannya dan bangkit menuju kamar mandi di luar kamar. Tak ada antrian seperti kunjungan yang lalu. Ia masih ingat, bagaimana ia bersama ketiga kawannya harus mandi barengan biar cepat.
            Kamar mandi ini sungguh lengang. Cat dindingnya biru laut mulai memudar oleh waktu. Gayungnya juga masih sama bentuk dan hijau warnanya. Cindy benar-benar menghayati setiap air yang menyentuh kulitnya, mengangkat sel kulit mati yang sudah menjadi daki.
            Bayangan ketiga sahabatnya masih mengikuti hingga ia kembali ke kamar. Tari, ia akhirnya menikah dan memilih mengikuti suaminya ke Palembang. Ratna melanjutkan kuliahnya di Swiss. Mara masih menetap di Magelang membantu ibunya menjaga toko kue.
            Sedangkan Cindy, ia tengah menuju ke pulau Dewata. Ia berbekal sebuah tas berisi pakaian, keperluan kecantikan, dan sebuah misi. Ia ingin menemukan apa yang selama ini ia cari: cinta. Begitu mendapat panggilan untuk bekerja di sebuah hotel butik resort dan spa di Bali, Cindy langsung mengiyakan.
            Kini ia sudah berada di penginapan yang sama pada waktu berbeda. Ia benar-benar sendiri. Seorang perempuan petualang. Cindy menghela napas dan bangkit dari tempat tidur.
            Setelah menyerahkan kunci dan mengambil kartu identitasnya, Cindy pun bergegas keluar penginapan menuju pelabuhan. Namun sebelum masuk pelabuhan, seorang lelaki memanggilnya. Bapak itu bertanya mau kemana, Dik? Cindy menyahut, “Denpasar!”
            Rupanya ia kernet bus yang sedang menawari para penumpang menuju pulau dewata. Katanya, harganya lebih murah karena pulang dari Jawa. Itu berarti hasil mengangkut penumpang hanya untuk dibagi-bagi sopir dan dua kernet. Ibarat menemukan mangga jatuh, Cindy pun setuju turut di bus antarprovinsi tersebut.
            Cindy duduk di deretan belakang sopir agar mudah memberitahunya kalau mau turun. Ia menatap keluar kaca jendela. Sesaat kemudian, bus pun bergerak maju. Petugas pelabuhan masuk dan memeriksa kartu identitas setiap penumpang. Pengawasan masuk pulau Bali semakin diperketat semenjak teror Bom Bali I dan II.
            Bus yang membawa Cindy pun mengantri di belakang truk dan kendaran lainnya untuk memasuki kapal. Sesampainya di bawah, penumpang diberi pilihan mau tetap tinggal di bus atau naik ke kapal bagian atas. Cindy memilih turun tanpa lupa membawa dompet dan beberapa barang penting agar tak hilang.
            Cindy disambut beberapa anak-anak lelaki kecil berkulit legam. Mereka tampak meringis bandel saat petugas hendak mengusir.
            “Mbak tolong saya!” ujar salah seorang anak.
            Cindy kebingungan. Bagaimana ia bisa menolongnya?
            “Lempar uang koin ke bawah kapal!” ujarnya.
            Cindy ragu merogoh kantung tasnya.
            “Buruan, Mbak!” ujar anak itu mulai panik.
            Cindy melemparnya ke laut, tanpa tahu apa maksud dan tujuan anak itu menyuruhnya. Dan ia pun terkejut. Anak itu meloncat  dari atas kapal ke bawah air mengejar koin yang dilempar Cindy. Cindy memperhatikan apa yang dilakukan anak tadi dan tertawa lega  melihatnya kembali mengapung dengan menunjukan uang koin seribuan.
            “Wow!” Cindy bergumam kagum. Untung ia  keluar dari bus dan memutuskan ke atas. Kalau tidak, pengalaman tadi tak akan terjadi.  Yang lalu, bersama teman-temannya, ia tinggal di bus karena takut barang-barang dicuri dan karena Tari benci ketinggian.
            Anak-anak berkulit legam lainnya pun berteriak minta hal yang sama. Cindy melempar uang koin ke bawah kapal. Cebur-cebur anak-anak pelabuhan itu melompat memburu koin-koin yang dilempar Cindy. Ternyata, tak hanya Cindy yang melempar koin, tapi beberapa penumpang juga melakukan hal yang sama di  sisi kapal yang berbeda.
            Kapal pun bergerak maju membelah selat Bali. Pemandangan di atas memang lebih menyenangkan. Kau bisa melihat kapal-kapal lain melintasi selat. Lalu pelabuhan Gilimanuk di depan sana yang seolah tak sabar menyambut. Kemarilah, banyak petualangan yang menanti.

2000km dari Bali....
            Sebuah taksi memasuki lobby Bandara Mae Fah Luang. Pintu terbuka dan muncul sesosok pria berusia duapuluh tiga tahun. Tampak tergesa membayar ongkos. Lalu buru-buru melesat menembus antrian orang yang sesaat kemudian bergumam kesal.
            Petugas bandara harus mencegahnya. Dalam bahasa Thai, “Maaf pesawat saya segera take off!”
            “Pesawat anda?”
            “Nokair,” jawabnya.
            “Boleh lihat tiketnya?” petugas tadi mengacungkan tangannya. Si pemburu pesawat mengeluarkan tiket dan juga identitasnya. Petugas tadi membaca sekilas lalu menunjuk ke layar jadwal keberangkatan pesawat.
            “Mr. Ratthapong, pesawat anda delayed. Jadi, kembalilah ke antrian dengan tenang!”
            Ratthapong memakai kacamatanya. Mata sipitnya dibukanya lebar-lebar. Tampak deretan tulisan Nook Air Chiangrai-Dong Muaeng delayed 30 minutes. Ia pun kembali menyusuri barisan antrean. Beberapa menertawakannya dan mengejeknya. Hanya seorang turis berkulit putih yang tak menertawakannya. Untuk mengalihkan rasa malunya, ia pun mengajak ngobrol pria tadi. Rupanya, ia berasal dari prancis seperti yang Ratthapong duga sebelumya dari logat bahasa inggrisnya. Mereka pun asyik bicara mengenai Chiangrai dalam bahasa prancis.
            Sekitar dua jam kemudian, Rattthapong sudah mengantri lagi di barisan  boarding. Kali ini di Dong Mueang International Airport.  Seluruh penumpang Bangkok-Denpasar telah siap diterbangkan.
            “Bonjour!”
            Suara itu mengagetkan Ratthapong. Ia menoleh. Ia nyengir melihat orang yang tadi bercakap di Mae Fah Luang. “Bonjour! Vous partez en Indonesie?”
            “Ben, oui. Bali.”
            Lalu mereka hanyut dalam percakapan. Mulai dari kenalan satu sama lain dan tujuan ke Bali. Keduanya saling berbohong dengan mengatakan: hanya untuk liburan.

Oase Resort.... beberapa jam sebelumnya.
            Sepasang kaki keluar dari villa  nomor 1000. Villa itu digunakan hanya untuk general manager resort.  Tampaklah sepatu Gucci dengan tegas melintasi pathway resort yang memisahkan kebun-kebun berrumput jepang yang hijau. Ia berhenti di restoran yang kami sebut Pandawa Restoran. Seorang waitress  menyambutnya dengan senyuman lalu sirnalah senyum itu dalam sekejap karena balasan yang tak setimpal. Waitress tampak gugup menyilahkan pemakai sepatu Gucci duduk. Namun hanya dilewati dan menuju ke ujung restoran yang menghadap ke pantai.
            Waitress paruh baya itu memburunya dan hendak menaruh celemek di pangkuan perempuan bersepatu Gucci. “Mom, would you like to have some coffee or tea?”
            Jawaban yang didengar adalah, “your pen, pleaze!” Lalu menulisi tissu di depannya dengan pen. “Give it to your manager!”
            “Allright, Mom. Should you need assistance, my name is Resini, i will be more than happy to assist you!” ujar si waitress.
            Tak lama setelah Resini masuk ke ruang manager, seorang lelaki keluar dengan panik. Dan memburu sang pemakai Gucci. Ia pun meminta maaf berkali-kali.
            “Anda harus disini sebelum morning briefing. Tidak ada alasan sedang menyiapkan report pagi-pagi, itu harus sudah selesai dari kemarin. Atau anda harusnya bisa mendelegasikan food and beverage admin. Saya jadi bertanya-tanya, sudah berapa bulan anda bekerja di restoran.”
            Si Manajer tertunduk. Baru ia mau berucap, sekali lagi, maaf.
            Tapi sang pemilik sepatu Gucci bangkit dan bergumam, “see you in morning briefing!” , lalu melangkah pergi.

Seluruh manajer berbaju serba putih telah duduk melingkari meja. Lalu serempak bangkit setelah si langkah sepatu Gucci memasuki ruangan empat puluh meter persegi itu. Ia duduk di depan sambil menyapa, “Good morning!”
            Seisi ruangan serempak membalas sapaan itu. Semua harus tampak semeriah mungkin. Namun, reaksi si pemakai Gucci tak bergeming. Ia tampak menoleh ke arah perempuan berambut panjang hitam. Kulitnya putih, hampir bisa dikatakan pucat. Matanya yang sipit menjadi tampak lebih bulat oleh eyeliner hitam. Natasha, namanya. Ia sudah hampir dua tahun menjadi sekretaris General Manager di resort Oase.
            Mata Natasha memberi kode ke bu Fatma, Human Resources Manager. Bu Fatma langsung paham apa yang dimauinya. “Ok, selamat pagi rekan-rekan. Tentunya sudah pada tahu, beliau...(mengarah ke wanita si pemilik Gucci), general manager kita yang baru. Pengganti pak Philipe. Sebelum di sini, beliau adalah general manager di Dusit Resort Chiangrai, Thailand....” Bu Fatma terus nyerocos memberitahukan siapakah general manager yang baru ini. Marie Antoinette Diard.
            Ya, lihatlah wanita itu. Ia sama sekali tidak merespon apa yang dilakukan sama bu Fatma. Perhatiannya terpacu pada dokumen di depannya. Tak mendapati respon, bu Fatma pun berhenti. “..., then, Madame Diard will conduct this meeting.”
            Madame Diard pun berdehem. Langsung ia menuju ke arah pak Albert, manajer restoran. Lelaki berambut keriting itu pun sudah menduga apa bahasan selanjutnya. Namun ia salah duga, madame Diard bilang mengenai permintaannya sudah dikirim mellui e-mail.
            Pak Albert mengangguk dan bilang sudah sempat membacanya. Ia pun berjanji akan membagi info penting tersebut kepada seluruh staffnya.
            Pembahasan beralih pada sales, Bu Dewi. Ia adalah kembang mawar di antara tanaman berbunga di meeting room. Riasannya lumayan mencolok, namun pas. Ia langsung mempresentasikan highlight sales market yang masih berkutat pada Australia dan Eropa. “Bulan depan, ada KUONI, Tui France, Asian Trails yang akan masuk dengan group package yang ketentuan kontraknya sudah tim kami bagikan lewat e-mail.”
            Tiba-tiba Madame Diard menyebut nama bu Fatma dengan tatapan sekilas. “Anything you wanna share to us about french speaking guest relation. I thin we can not wait anymore until next month, right. ”
            Bu Fatma mengangguk. “I got one candidate, she will join with us by tomorow.”
            “Saya harap anda sudah memastikan dia beneran bisa bahasa prancis,” ujar Madame Diard sambil berdehem.
            Bu Fatma menjelaskan bahwa proses interview memang melalui skype. Namun, beliau melibatkan salah satu guru bahasa prancis dari l’Allience Fran├žaise Denpasar. Mendengar itu Madame Diard hanya bergumam, “good!”


 Bersambung















Comments

Post a Comment

Hotest Articles

5 Kesalahan Saat Berlibur di Bali

5 Alasan Batik Lebih Baik

Traveller Jaman Now Harus Jadi Mandiri

Contact Me

Name

Email *

Message *