Monday, August 13, 2018

Village Tour Plus

Mount Merapi from Jamus 
As a rural village settled approximately 10 km from the amazing Borobudur temple, Jamus village sustains the old javanese community. No wonder, they speak javanese and live in the middle of rain forest and padi’s ricefield. Village Tour Plus offered to explore this area and fishing in ‘blumbang’ as a plus of the program.




Cycling during village tour
1.      Cycling or Hiking

In the morning, your driver will drop you in the courtyard of the old javanese house which was built in 1970’s. This house owned by Zurohmad familly, the person in charge for the program. He and his team  will welcome and guide you to explore the village by bike or just on foot.



Blumbang or fish farm 


2.      Visiting Home Industry of ‘Emping’

The first stop is home industry of ‘Emping’. Yes, the chips are made from melinjo or  gnetum gnemon which has most antioxidant. You can see the proccess of the chips making and taste it. Almost the women of the village make 'emping' by and sell it by themselves.   






3.      Farmsfield  with tropical forest background

Continuing the exploration, you will find unforgettable view of the ricefield or other farmsfield. The lunch time, you will be guided to Blumbang, a small fish farm where you will go fishing.


Fishing in the farm fish as alternative tourism 
4.      Fishing and grilling your own fish

Enjoy the fishing with your friend in the tropical fish farm. After you got it, you will grill your own fish and bon appétit!

For more inquiry and reservation: 
 zurohmad88@gmail.com
Duration: 4 hours
450.000++ IDR /pax





Friday, August 10, 2018

Le Lever de Soleil Magnifique à Bromo et La Visite Kawah Ijen

Bromo, site volcanique fascinant

Java-Est est très connu pour sa nature. Bromo est un des sites très impresionant.  Ça m’interesse toujours à chaque fois faire du ‘trekking’ le Jardin National d’Indonésie. Au bord de la route, j’ai decouvert les vegetations éxtraordinaires tout au bord de chemin du trekking. Et puis, on arriva au coin où on jouit d’un panorama volcanique. Autrement, Kawah Ijen offre le paysage innoubliable. Kawah signifie la cratère et Ijen est vert, il s’agit alors la cratère verte. La distance de trekking est plus longue de celle à Bromo.

Voilà le petit avis de faire le trekking de ces deux sites:

Bali-Ijen
la cratere d'Ijen, source: soloida.com
Transfert pour le port de Gilimanuk Bali afin de prendre le ferry à destination de port Ketapang, Banyuwangi. Dîner et nuit à l’hotel avant partir à lendemin 05h00 en Jeep pour trekking à Kawah Ijen au matin. Pour le lever de soleil de Kawah Ijen,  on part  d’hotel au minuit. Retourner à l’hôtel pour se doucher  et partir pour Malang.









l'herbe gele

Malang- Bromo

Arrivé à Malang et nuit à l’hôtel. Malang est une ville très connue pour le repas et aussi le complex des maisons multicolorés. Au minuit et demi, départ pour Bromo en voiture jusqu’à Sukapura où se trouve Jeep pour acceder Bromo. Dejeuner au Lava View Lodge. Malang est un avis pour ceux qui n’aime pas du tout 3-10°C.

Bromo- Menjangan.

Arrivé à votre résort à Menjangan au milieu de la fôret de mangroves. Voilà la visite de Ijen et Bromo de Bali. Pour la reservation et avis, n’hesitez vous de me contacter: balimoneveil@gmail.com.

Thursday, May 31, 2018

Berwisata dan Sholat di Pura Langgar Bangli: Pesona Ramadhan 2018



Langgar dalam Pura
Bukti monumental toleransi di Bali  yang memesona
foto: merdeka
Bali dikenal sebagai pulau dewata yang memiliki ribuan pura. Tak jarang, pura memiliki fungsi sebagai tempat sembahyang sekaligus daya tarik wisata. Pura yang menarik wisatawan biasanya memiliki arsitektur yang unik, nilai historis yang tinggi dan menyimbolkan nilai-nilai luhur. Pura yang patut dikunjungi saat bulan ramadhan ini adalah Pura Langgar. 
            Pura ini terletak  sekitar 20 menit berkendaraan mobil dari  kota Bangli, Bali, ke arah selatan. Tepatnya, pura ini berada di sisi timur jalan raya dan masih harus memasuki gang yang hanya bisa dilewati satu mobil. Sehingga, harus lumayan berjuang.
            Namun begitu sampai disana, saya dibuat takjub. Betapa tidak, pura ini memiliki langgar yang terletak di dalam kompleks pura. Mungkin, ini satu-satunya bangunan yang menyimbolkan kerukunan umat beragama kaum muslim dan Hindu sejak abad ke-17.
            Pura yang disebut juga Pura Dalem Jawa ini dibangun di atas kolam dengan banyak tanaman teratai. Konon, Pura Langgar berdiri karena keterikatan antara Kerajaan Bunutin dan Kerajaan Blambangan di Banyuwangi, Jawa Timur. Saat itu, Raja Kerajaan Bunutin adalah Ida I Dewa Mas Blambangan masih keturunan kerajaan Blambangan yang sakit keras sebelum akhirnya mangkat. Beliau membangun tempat peristirahatan (maqam) untuk sahabatnya, Ida Mas Wilis Blambangan, di dalam langgar. Menurut pemandu saya, bapak Gde Oka, bentuk pura ini menyerupai Mushola. Namun direnovasi sekitar tahun 1920 karena insiden kebakaran.  Pura ini dilengkapi dengan beberapa fasilitas bagi pengunjung muslim yang berkunjung, seperti area  parkir, tempat wudhu dan sholat. Jadi tidak perlu khawatir ibadah keteteran saat liburan.
           
Kolam Teratai yang menyejukan bagi yang memandangnya
Sumber: balitemple
Oh iya, bulan Ramadhan tahun ini bertepatan dengan hari raya Galungan dan Kuningan. Sebab itulah pura begitu ramai orang memakai baju adat Bali serba putih sedang bersembahyang. Ada yang menarik, olahan babi yang akrab dengan ritual perayaan Galungan tidak ditemukan di pura ini. Kata salah satu penduduk yang habis selesai sembahyang, tradisi ‘Galungan’ tanpa babi ini untuk menghormati keberadaan langgar di dalam pura. Mereka tahu betul, Babi dan alkohol adalah makanan dan minuman yang diharamkan untuk dimakan umat muslim. Saking tidak ingin menyakiti perasaan umat  Islam, Babi pun tak tersaji disana, tetapi di bagian pura yang lain.
            Disini, saya benar-benar memahami apa arti salah satu prinsip Trihita Karana, pawongan yang dipegang teguh umat Hindu. Mereka tahu caranya membina keharmonisan hubungan antar-manusia. “Ibaratnya, makan babi di depan kawan yang muslim bisa menyakiti hati, lebih baik tidak makan sama sekali. Jika harus makan, di tempat lain. Supaya tidak tersinggung!” ujar salah satu penduduk.
            Padahal, saya tidak terlalu ambil pusing mereka memakannya. Namun, ya sudahlah, itulah cara mereka menyambut kita, umat muslim, untuk menjadi bagian dari masayarakat Bali. Hmmm, saya kembali ke Denpasar dengan pelajaran yang sangat berharga.

Disclaimer: artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Pesona Ramadhan yang diadakan oleh Generasi Pesona Indonesia  dan Kementrian Pariwisata Indonesia

Sunday, May 27, 2018

Ibarat kelas Hotel, Emeron: Perawatan Rambut Bintang Lima!

Pakai Emeron Damage Hair Treatment,
tenang beraktivitas di bawah terik sinar matahari

sumber: instagram @uliss___
Ibarat kelas sebuah Hotel, kak Helmi, Emeron itu perawatan rambut kelas  bintang lima! kata salah satu teman saya, Ulis, dengan wajah yang serius. Awalnya, saya penasaran berapa budget yang dikeluarkannya untuk melakukan perawatan, terutama rambutnya. Saya mengira  jutaan per bulan. Saya salah. Ulis bukanlah tipe perempuan yang gemar nyalon. Selain itu, kegiatan sehari-hari yang lumayan padat membuatnya harus betul-betul  tahu bagaimana mengatur waktu dan tetap harus tampil prima. 
         Untuk urusan rambut, tidak boleh sembarangan. Selain perawatan yang tidak bikin rempong,tetap harus berkualitas.  Teman saya ini memang bukan seorang selebritis. Kami berkenalan satu sama lain sejak bekerja di salah satu hotel bintang lima di Bali. Jauh sebelum menjadi receptionist,  mojang Bandung berdarah Palembang ini, pernah menjuarai ajang Cheerleading yang mengantarkannya bersama team ke Amerika Serikat. Tak hanya itu, ia juga menjadi freelance foto model. Ia menganggap dua kegiatan ini sebagai hobi. Sedangkan menjadi  receptionist adalah pekerjaan tetapnya.
Dulu peserta, sekarang pelatih!
Sumber: Instagram @uliss___
            Sebagai satu teman kerja, saya heran, hasil kerjanya hampir selalu memuaskan. Salah satu indikator keberhasilan seorang  receptionist  adalah disebut namanya di Tripadvisor maupun media survey. Dan Ulis pernah memenangi  staf paling banyak disebut namanya di Tripadvisor. 
          Sebagai receptionist, kawan saya ini bekerja  45 jam seminggu. Seringnya lebih dari itu. Tantangan utama da ri pekerjaan ini adalah harus berdiri lama di lobby, bertemu dengan tamu-tamu yang tak jarang ‘rewel’ dan harus tetap kelihatan syantik. Sebab kebanyakan tamu hotel tidak mau tahu seberat apapun, secapek apapun seorang receptionist, saat bertemu. Yang mereka tahu dan inginkan adalah pelayanan yang prima. Oleh sebab itu, seorang receptionist merupakan salah satu garda terdepan yang mewakili hotel untuk menyambut kedatangan tamu. Dan Ulis adalah salah satu andalan kami.
Sulistya Hendarty, panggilannya Ulis
Receptionist salah satu hotel bintang lima di Seminyak Bali
                "Rahasianya pada rambut, Kak. Mood akan sangat bagus jika rambutku sehat dan terawat," celotehnya. Namun, apa yang ia bilang memang benar. Rambut memang salah satu yang patut dibanggakan. Lebih jelasnya,  rambut merupakan mahkota bagi kaum hawa. Demikian dengan kawan saya ini. Ia rajin memperindah rambutnya dengan warna-warna yang tidak menjemukan. Untungnya, Human Resources Hotel tempat kami bekerja memperbolehkan mewarnai rambut dengan syarat-syarat tertentu. Syarat yang paling penting, adalah pewarnaan rambut menjadikan penampilan semakin bagus. Maksudnya, tetap terlihat sehat, tetap terlihat cantik.

            Faktanya, kegemaran mengecat  dan mencatok berisiko buruk pada rambut. Ditambah lagi dengan sinar matahari yang belakangan sangat terik.  Akibat dari semua itu, rambut menjadi tidak sehat, kusam, patah, bahkan rontok. Jadi tidak cantik lagi.
                 "Makanya aku coba Emeron, " ujar Ulis. 
            Emeron Complete Hair Care merupakan perawatan rambut alami g terdiri atas shampoo, conditioner, dan hair vitamin hadir untuk merawat rambut bagi yang banyak beraktivitas di luar ruangan serta tidak memiliki cukup waktu untuik nyalon. Salah satu produk Emeron adalah si Kuning Damage Care Active Provit Amino dengan kandungan nutrisi avocado. Rangkaian perawatan ini mencakup shampoo, conditioner, dan hair vitamin yang berfungsi memperbaiki kerusakan kutikula serta melapisi permukaan helai rambut.
“Cara penggunaannya pun sangat mudah,” kata Ulis. Cukup mengawali dengan Emeron Nutritive Shampoo Damage Care Avocado untuk berkeramas. Lalu, gunakan Emeron Nutritive Conditioner Damage care Avocado dari tengah sampai ujung rambut. Hindarkan kondisioner menyentuh permukaan kulit kepala! Setelah itu, usapkan cairan Emeron Hair Vitamin Damage Care ke seluruh rambut yang masih setengah basah. “Terakhir, rambut pun siap ditata segaya apapun,” pungkas Ulis sambil tertawa.
Satu Paket untuk perawatan rambut rusak dan kusam
(sumber: koleksi prbadi)
Tak habis sampai disitu. Ulis pun menambahkan  harga satu paket perawatan Damage Care ini sangat terjangkau. Jadi, ia bisa menghemat pengeluaran untuk perawatan rambut. Lalu mengalokasikan uangnya ke hal-hal  penting lainnya, seperti: membeli vitamin untuk tubuh, perawatan kulit, baju dan banyak lagi.
“Jadi tetap akan terlihat syantik meskipun tidak pernah  nyalon,” tambah Ulis dengan riang. Keriangan inilah yang saya suka dari Ulis. Karena keceriaan itulah memberi kesan positif kepada para tamu  di hotel kami. Menurutnya, orang lain bisa tertarik kepada kita karena kita menarik. Untuk bisa menarik, harus selalu berusaha berpikir positif dan didukung oleh penampilan yang ciamik.  Selain berbagi rahasia lain, bagaimana agar nama kita banyak disebut di guest satisfaction. “Dan, jangan lupa nama tamu yang kamu ajak bicara, Kak! Mereka akan sangat senang dan berusaha mengingat namamu jika kamu ingat nama mereka”


Disclaimer: artikel ini diikutsertakan dalam Emeron Blogging Competition Perawatan Lengkap Untuk Rambut Cantikmu.

Wednesday, May 23, 2018

Liburan di Taman Botani Sukorambi Jember : Dari ‘Dag Dig Dug’ Main Waterball Hingga Belajar Pertanian Modern


Jember makin rame! Oleh sebab itu,  dibangunlah tempat-tempat sebagai destinasi wisata. Salah satunya adalah Taman Botani Sukorambi. Ya, taman yang terletak di Jalan Mujahir, Sukorambi ini memang  destinasi wisata Jember yang wajib dikunjungi. Jaraknya dari pusat kota Jember hanya sekitar 10 menit saja. Berbagai sarana bermain, uji keterampilan hingga sarana belajar yang asyik dicoba tersedia di taman berluas 8 hektare ini.

1.      Waterball
Main Waterball, seru!!
Sumber: website Taman Botani Sukorambi
Sesuai dengan namanya, wahana bermain ini menggunakan bola plastik besar dan tebal. Para petugas akan senang sekali membantu kita untuk masuk ke dalam bola dan membuat bola berjalan di atas air hingga permainan usai. Sensasi yang dirasakan 'dag dig dug', mau tenggelam tapi tidak jadi, begitu seterusnya  sampai membuat kita teriak sambil tertawa-tawa seru di dalam bola.  Karena permainan ini mampu menguras tenaga,  tubuh musti  fit dan sebaiknya dilakukan saat cuaca tidak panas. 



2.      Flying Fox
Masih ingin uji adrenalin? Permainan  flying fox bisa dicobai.  Ada dua jenis flying fox di taman ini: Flying Fox Jungle dan Flying Fox Tombro. Beda di antara keduanya adalah tingkat adrenalin yang dipacu. Flying Fox Tombro  biasanya untuk pemula dan memiliki tingkat kemiringan yang tidak terlalu curam, hanya 15 derajat. Selain itu panjang tali untuk wahana ini hanya 100 meter. Sedangkan Flying fox Jungle lebih menantang. Kita bisa menikmati sensasi ‘dag dig dug’ melayang dilengkapi  dengan  alat pengaman tingkat tinggi dan tali sepanjang 160 meter pada ketinggian empat puluh meter di atas lembah serta pepohonan hijau. Wah, seru pastinya!

3.      Rumah Pohon
Santai sejenak di rumah pohon, seruuuu!
Sumber: website Taman Botani Sukorambi
Sudah letih dengan uji adrenalin? Saatnya bersantai atau sekadar selfie di rumah pohon. Rumah yang terletak 5 meter dari tanah ini menawarkan pemandangan yang pantang dilewatkan. Sayangnya rumah pohon ini tidak muat untuk banyak orang. Petugas akan membatasi 5 sampai enam pengunjung saja. Sebab itu, harus mengantri. Sabar, ya!

4.      Kolam Renang
Antrian naik rumah pohon bikin galau karena mengular panjang? Tenang, masih ada empat kolam renang untuk bersantai sambil berenang kesana-sini. Taman Botani Sukorambi memiliki banyak kolam renang: kolam untuk orang dewasa, kolam renang anak-anak,  untuk remaja, kolam renang pelangi  satu dan dua.  Bahkan, kolam renang untuk muslimah juga tersedia.

5.      Pondok Baca
Ini tempat favorit bagi yang suka membaca. Koleksi buku bacaan  mulai dari ilmu agama, ilmu pengetahuan hingga buku lainnya tersedia untuk pengunjung Taman Botani Sukorambi. Suasana yang tenang berpadu ruangan lantai atas dan dan dasar siap menyambut kita untuk menikmati bacaan.

6.      Belajar langsung dari Alam
Sebagai tempat belajar, taman botani Sukorambi tidak berhenti memberikan fasilitas  hanya sampai di pondok baca. Sebab  tidak semua orang suka dengan membaca dari buku, tetapi langsung dari alam. Sekitar 500  flora dan fauna yang tersebar di taman ini dapat menjadi bahan belajar untuk lebih mengenal alam kita.    Kita bisa mendapati aneka koleksi hewan hias dan hewan dilindungi. Tujuannya adalah memperkenalkan satwa-satwa ciptaan Tuhan yang  harus kita jaga kelestariannya.  

7.      Bunny and Friends Village
Bunny atau kelinci sudah dikenal di Indonesia sebagai hewan ternak sekaligus hewan piaraan. Tetapi, pernahkah kalian meluangkan waktu untuk mengamatinya perilaku mereka, mempelajari cara memelihara serta merawat hewan-hewan menggemaskan ini? Bunny and Friends Village salah satu tempat di Taman Botani Sukorambi untuk belajar mengenal kelinci. Terdapat ratusan kelinci yang siap menyambut kita, lho!

8.      Belajar Menanan Hidroponik dan Pembenihan Lobster
Belajar tentang teknik hidroponik, asyiiik!
Sumber: website Taman Botani Sukorambi
Dalam ilmu pertanian hidroponik memang bukan kata yang asing lagi. Namun, teknik pertanian dengan menggunakan media air (hydro dari hydrogen, nama senyawa air dalam ilmu kimia)  ini belum begitu populer di negeri kita. Hanya sebagian kecil masyarakat di Indonesia saja yang mengetahuinya.  Nah, kita pun berkesempatan untuk belajar bagaimana menanam sayuran, seperti selada dan sawi, menggunakan teknik ini. Selain itu, ada sembilan  kolam pembibitan ikan koi dan lobster yang siap  digunakan  sebagai sarana pembelajaran yang tertarik berbisnis ikan serta lobster. 

Sangat menarik, bukan? Taman Botani Sukorambi memang  taman sekaligus tempat bermain dan belajar yang harus dikunjungi saat di Jember. Harga tiket masuk terbilang murah, yaitu  mulai 12 ribu rupiah per orang. 

Sumber tulisaan: website  Taman Botani Sukorambi 
Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Taman Botani Sukorambi dan Blogger Jember Sueger 


Sunday, May 20, 2018

Mengunjungi Si Leher Panjang Bersama Shopback: Sebuah Catatan Liburan Ramadhan tahun lalu



            Liburan Ramadhan tahun lalu, aku mengunjungi kampung  Si Leher Panjang. Kampung ini terletak sekitar sejam perjalanan mobil dari bandara Mae Fah Luang, Chiangrai, Thailand.
            Mulanya, aku hanya berniat mengunjungi  obyek wisata lain, yaitu White Temple. Namun salah satu teman bilang aku harus bertandang di desa Si Leher Panjang. Aku  menemukan gambar-gambar para perempuan mengenakan kalung bertumpuk-tumpuk dari pangkal leher hingga ujung di google. Rasa penasaran membuatku mencari tahu lebih banyak tentang wanita-wanita berleher panjang ini
Jadi, bertambahlah satu obyek wisata yang harus aku kunjungi. Sedangkan budget pas-pasan. Aku pun berpikir ulang dan terus mencari informasi tiket pesawat promo dan hotel. Hingga akhirnya aku menemukan Shopback.
            Shopback ini merupakan marketplace dari e-comerce yang sudah ada. Hanya saja, e-comerce yang dimaksud tak hanya satu kategori saja. Tetapi banyak kategori, seperti:  fashion, kebutuhan sehari-hari, transportasi dan travel. Sejauh ini, memang belum ada market place selengkap  Shopback.  Maka tak berlebihan jika Shopback disebut e-mall pertama dan terlengkap di Indonesia.
            Karena aku sedang ingin liburan, maka aku pun menjelajahi gerai travel. Bak menemukan penjual es kelapa setelah panas-panas seharian berpuasa, aku girang bukan kepalang. Bagaimana tidak, aku menemukan e-commerce  langgananku,  expedia  disana. Aku makin senang. E-commerce travel lain seperti agoda.com, tiket.com, booking.com dan banyak lagi terpampang disana dengan tulisan cashback di bawahnya. Ya, keuntungan kita sebagai buyer adalah mendapat cashback atau bonus dalam bentuk uang tunai dari e-comerce di Shopback. Uang tunai ini merupakan bagi hasil komisi yang didapatkan dari kerjasama e-comerce  yang bersangkutan dengan Shopback. Besaran cashback pun bermacam-macam. Pastinya, aku memilih  yang paling besar lah ya.
            Ada tiga langkah yang musti dilakukan untuk mendapatkan cashback di Shopback. Pertama, aku harus membuat akun di Shopback. Kedua, aku berbelanja di gerai expedia. Langkah ketiga akan kukasih tahu pada bagian akhir catatan ini.
            Sesampainya di Chiangrai, aku langsung mengunjungi beberapa obyek wisata. Kemudian menginap di Amarin Resort yang terletak di wilayah penduduk muslim kota Chiangrai. Hari berikutnya, aku pun menuju kampung suku Karen, yang para wanitanya memiliki leher panjang, di Tambon Nang Lae, kecamatan Mueang Chiangrai, propinsi Chiangrai.

Pengagum Elsa-Frozen
Para wanita di kampung itu mengenakan gelang di leher sejak usia belia. Setiap pertambahan usia ditandai dengan penambahan jumlah gelang yang melingkar pada lehernya. Semakin banyak gelang di leher, semakin panjang lehernya. Itu juga berarti  semakin membanggakan karena kecantikan wanita suku Karen diukur  dari panjang leher tersebut. Kebiasaan mengenakan gelang leher itu sudah ada sejak jaman dulu. Konon, wanita suku Karen tinggal di gunung dan sering diterkam oleh binatang buas pada bagian leher. Untuk melindungi dari ancaman itu, mulailah tradisi mengenakan gelang-gelang dari logam yang berat sehingga mereka merasa aman saat ditinggal berburu para pria.
Wanita tertua di kampung Tambon Nang Lae
            Wanita suku Karen sebenarnya berasal dari Tibet, dan saat ini tersebar di Myanmar, Laos dan sebagian besar di Chiangrai, Thailand. Sebagian besar suku ini menganut Animisme dan Budha  sebelum misionaris dari barat mendatangi kampung ini. Di kampung yang kukunjungi, mereka bisa ditemui sedang menenun, menjaga barang dagangan berupa kerajinan tangan di gubuk-gubuk beratap jerami. Mereka menyambut rombongan turis dengan tarian yang diiringi musik dari gitar mungil sementara para lelaki suku belum pulang dari berburu di hutan. Dengan kemampuan bahasa inggris yang seadanya, mereka giat memanggil pengunjung untuk membeli dagangan seperti gelang dari tembaga, kalung, dan syal hasil tenunan.  Harga dagangan mereka bervariasi, tergantung pada tingkat kesulitan pembuatannya dan kelihaian menawar para pengunjung. Kisaranya dimulai dari seratus hingga empat ratus bath per cenderamata.

            Selain perempuan dewasa, pengunjung juga bisa menemukan beberapa anak laki-laki  seperti anak-anak kecil umumnya. Menariknya, anak-anak perempuannya sudah mengenakan gelang leher. Mereka sangat senang menyambut turis yang datang. “Bila yang dewasa mengharapkan turis membeli dagangan, maka anak-anak ini akan senang bila pengunjung memberinya makanan ringan,” kata sopir yang masih mendampingi penulis melihat-lihat. Oleh sebab itu,  sopir itu menyuruh penulis membeli makanan ringan.Tidak lain dan tidak bukan untuk anak-anak tersebut.
          Di belakang gubuk-gubuk toko tersebut terdapat rumah-rumah penduduk yang bisa dikunjungi. Rumah rumah kecil berbentuk panggung dari bambu dan beratap jerami. Terdapat beberapa hewan ternak seperti ayam, bebek di bawah rumah tersebut. Pemerintah memfasilitasi kampung bertradisi unik ini dengan pembangkit listrik tenaga surya yang ramah lingkungan. Secara keseluruhan, liburan Ramadhan kali ini menambah wawasan tentang definisi cantik dan sangat menyenangkan.
            Lebih menyenangkannya lagi, aku dapat  cashback setelah liburan. Oh iya, cara ketiga adalah mendapatkan cashback.  Jumlah cashback yang ada di akun Shopback. Biasanya cashback akan diproses setelah 2-10 hari  pembelian tergantung berapa lama e-commerce memberi komisi. Kemudian, Shopback akan menransfer cashback ke rekening aku.
            Begitulah catatanku tentang  liburan Ramadhan tahun lalu bersama Shopback.

Monday, February 26, 2018

Cindy Mei (Bagian I)


I

            Kereta dari Jogja melaju menembus kelamnya malam. Lihatlah lampu lampu berjalan di balik kaca jendela. Sosok itu nampak terdiam menikmati barisan diluar sana.  Rumah-rumah, bayang bayang pohon hitam berjejer saling berlari melawan arah.  Sesekali ia membenahi posisi duduknya di kursi yang seolah menelan sekujur tubuh. Suara lelaki parau karena kantuk terdengar: sebentar lagi kita akan sampai di stasiun Banyuwangi Baru.
            Perempuan itu terkesiap. Ia menjulurkan tubuhnya dan bangkit menggeliat. Tangannya cekatan melipat selimut dan merapihkan tempat duduknya. Kondektur kereta api tak tega melihatnya memanjat kursi mencoba meraih tas hitam penuh di atas kabin kereta.
            “Boleh saya bantu, Mbak?”
            Perempuan itu menoleh. Tampak ia nyengir. “Terimakasih, Pak!” ucapnya. Ia kembali duduk dan disamping tasnya.
            Kereta api berhenti.  Penumpang yang masih tersisa pun mengosongkan gerbong. Ini kereta ekonomi Sri Tanjung yang jadwal terakhir di Banyuwangi.
            Perempuan tadi menerobos orang-orang yang sibuk menawari jasa ojek dan taksi menuju pelabuhan Ketapang. Berulangkali pula ia menjelaskan tidak hendak menuju pelabuhan. Langkahnya melaju di atas jalan keluar stasiun Banyuwangi Baru. Ia pun mencoba mengingat-ingat setahun silam, ia dan kawan-kawannya nekad ke Pulau Bali. Takut gelap, mereka menginap di sebuah penginapan kecil. Sambil mengingat ingat penginapan yang mana, ia pun terus melangkah. Kaos putihnya menguning oleh lampu di tepi jalan.
            Matanya berbinar ketika mendapati papan bertuliskan Bunga Biru. Di sekelilingnya lampu warna warni berkelap kelip. Ia ingat betul penginapan ini penginapan yang sama dengan penginapan setahun silam.
            Si penjaga penginapan tampak terkejut mendapatinya datang. Sesosok mungil membawa tas yang sangat besar dibanding tubuhnya mendekatinya, “Permisi! Masih ada kamar kosong?”
            Si penjaga mengangguk. Dilihatnya sekali lagi perempuan di depannya. Matanya sipit, hitam rambutnya, kulitnya putih. “Pernah disini, ya?”
            “Iya, Mas. Kalau repeater dapat korting?”
            Si Mas penjaga terkekeh. “Ndak ada, Mbak. Lagi sepi!” Lalu memberikan kunci dan meminta KTP perempuan itu yang sudah masuk ke kamar yang ditunjuknya. Ia pun melihat sekali lagi KTP itu. Tanpa sadar ia mengeja namanya, “Cindy Mei!”

***
Suara kicau burung terdengar sayup sayup. Suara lainnya adalah orang-orang yang melalui gang sempit. Suara kendaraan berlalu lalang dengan klakson yang menjerit sesekali mengalahkan suara kokok ayam. Di antara keriuhan itu, sesekali terdengar suara mendengung yang mengingatkannya pada suara kapal dalam film Titanic.
            Cindy bangkit. Ia pun membuka tas  bawaannya dan bangkit menuju kamar mandi di luar kamar. Tak ada antrian seperti kunjungan yang lalu. Ia masih ingat, bagaimana ia bersama ketiga kawannya harus mandi barengan biar cepat.
            Kamar mandi ini sungguh lengang. Cat dindingnya biru laut mulai memudar oleh waktu. Gayungnya juga masih sama bentuk dan hijau warnanya. Cindy benar-benar menghayati setiap air yang menyentuh kulitnya, mengangkat sel kulit mati yang sudah menjadi daki.
            Bayangan ketiga sahabatnya masih mengikuti hingga ia kembali ke kamar. Tari, ia akhirnya menikah dan memilih mengikuti suaminya ke Palembang. Ratna melanjutkan kuliahnya di Swiss. Mara masih menetap di Magelang membantu ibunya menjaga toko kue.
            Sedangkan Cindy, ia tengah menuju ke pulau Dewata. Ia berbekal sebuah tas berisi pakaian, keperluan kecantikan, dan sebuah misi. Ia ingin menemukan apa yang selama ini ia cari: cinta. Begitu mendapat panggilan untuk bekerja di sebuah hotel butik resort dan spa di Bali, Cindy langsung mengiyakan.
            Kini ia sudah berada di penginapan yang sama pada waktu berbeda. Ia benar-benar sendiri. Seorang perempuan petualang. Cindy menghela napas dan bangkit dari tempat tidur.
            Setelah menyerahkan kunci dan mengambil kartu identitasnya, Cindy pun bergegas keluar penginapan menuju pelabuhan. Namun sebelum masuk pelabuhan, seorang lelaki memanggilnya. Bapak itu bertanya mau kemana, Dik? Cindy menyahut, “Denpasar!”
            Rupanya ia kernet bus yang sedang menawari para penumpang menuju pulau dewata. Katanya, harganya lebih murah karena pulang dari Jawa. Itu berarti hasil mengangkut penumpang hanya untuk dibagi-bagi sopir dan dua kernet. Ibarat menemukan mangga jatuh, Cindy pun setuju turut di bus antarprovinsi tersebut.
            Cindy duduk di deretan belakang sopir agar mudah memberitahunya kalau mau turun. Ia menatap keluar kaca jendela. Sesaat kemudian, bus pun bergerak maju. Petugas pelabuhan masuk dan memeriksa kartu identitas setiap penumpang. Pengawasan masuk pulau Bali semakin diperketat semenjak teror Bom Bali I dan II.
            Bus yang membawa Cindy pun mengantri di belakang truk dan kendaran lainnya untuk memasuki kapal. Sesampainya di bawah, penumpang diberi pilihan mau tetap tinggal di bus atau naik ke kapal bagian atas. Cindy memilih turun tanpa lupa membawa dompet dan beberapa barang penting agar tak hilang.
            Cindy disambut beberapa anak-anak lelaki kecil berkulit legam. Mereka tampak meringis bandel saat petugas hendak mengusir.
            “Mbak tolong saya!” ujar salah seorang anak.
            Cindy kebingungan. Bagaimana ia bisa menolongnya?
            “Lempar uang koin ke bawah kapal!” ujarnya.
            Cindy ragu merogoh kantung tasnya.
            “Buruan, Mbak!” ujar anak itu mulai panik.
            Cindy melemparnya ke laut, tanpa tahu apa maksud dan tujuan anak itu menyuruhnya. Dan ia pun terkejut. Anak itu meloncat  dari atas kapal ke bawah air mengejar koin yang dilempar Cindy. Cindy memperhatikan apa yang dilakukan anak tadi dan tertawa lega  melihatnya kembali mengapung dengan menunjukan uang koin seribuan.
            “Wow!” Cindy bergumam kagum. Untung ia  keluar dari bus dan memutuskan ke atas. Kalau tidak, pengalaman tadi tak akan terjadi.  Yang lalu, bersama teman-temannya, ia tinggal di bus karena takut barang-barang dicuri dan karena Tari benci ketinggian.
            Anak-anak berkulit legam lainnya pun berteriak minta hal yang sama. Cindy melempar uang koin ke bawah kapal. Cebur-cebur anak-anak pelabuhan itu melompat memburu koin-koin yang dilempar Cindy. Ternyata, tak hanya Cindy yang melempar koin, tapi beberapa penumpang juga melakukan hal yang sama di  sisi kapal yang berbeda.
            Kapal pun bergerak maju membelah selat Bali. Pemandangan di atas memang lebih menyenangkan. Kau bisa melihat kapal-kapal lain melintasi selat. Lalu pelabuhan Gilimanuk di depan sana yang seolah tak sabar menyambut. Kemarilah, banyak petualangan yang menanti.

2000km dari Bali....
            Sebuah taksi memasuki lobby Bandara Mae Fah Luang. Pintu terbuka dan muncul sesosok pria berusia duapuluh tiga tahun. Tampak tergesa membayar ongkos. Lalu buru-buru melesat menembus antrian orang yang sesaat kemudian bergumam kesal.
            Petugas bandara harus mencegahnya. Dalam bahasa Thai, “Maaf pesawat saya segera take off!”
            “Pesawat anda?”
            “Nokair,” jawabnya.
            “Boleh lihat tiketnya?” petugas tadi mengacungkan tangannya. Si pemburu pesawat mengeluarkan tiket dan juga identitasnya. Petugas tadi membaca sekilas lalu menunjuk ke layar jadwal keberangkatan pesawat.
            “Mr. Ratthapong, pesawat anda delayed. Jadi, kembalilah ke antrian dengan tenang!”
            Ratthapong memakai kacamatanya. Mata sipitnya dibukanya lebar-lebar. Tampak deretan tulisan Nook Air Chiangrai-Dong Muaeng delayed 30 minutes. Ia pun kembali menyusuri barisan antrean. Beberapa menertawakannya dan mengejeknya. Hanya seorang turis berkulit putih yang tak menertawakannya. Untuk mengalihkan rasa malunya, ia pun mengajak ngobrol pria tadi. Rupanya, ia berasal dari prancis seperti yang Ratthapong duga sebelumya dari logat bahasa inggrisnya. Mereka pun asyik bicara mengenai Chiangrai dalam bahasa prancis.
            Sekitar dua jam kemudian, Rattthapong sudah mengantri lagi di barisan  boarding. Kali ini di Dong Mueang International Airport.  Seluruh penumpang Bangkok-Denpasar telah siap diterbangkan.
            “Bonjour!”
            Suara itu mengagetkan Ratthapong. Ia menoleh. Ia nyengir melihat orang yang tadi bercakap di Mae Fah Luang. “Bonjour! Vous partez en Indonesie?”
            “Ben, oui. Bali.”
            Lalu mereka hanyut dalam percakapan. Mulai dari kenalan satu sama lain dan tujuan ke Bali. Keduanya saling berbohong dengan mengatakan: hanya untuk liburan.

Oase Resort.... beberapa jam sebelumnya.
            Sepasang kaki keluar dari villa  nomor 1000. Villa itu digunakan hanya untuk general manager resort.  Tampaklah sepatu Gucci dengan tegas melintasi pathway resort yang memisahkan kebun-kebun berrumput jepang yang hijau. Ia berhenti di restoran yang kami sebut Pandawa Restoran. Seorang waitress  menyambutnya dengan senyuman lalu sirnalah senyum itu dalam sekejap karena balasan yang tak setimpal. Waitress tampak gugup menyilahkan pemakai sepatu Gucci duduk. Namun hanya dilewati dan menuju ke ujung restoran yang menghadap ke pantai.
            Waitress paruh baya itu memburunya dan hendak menaruh celemek di pangkuan perempuan bersepatu Gucci. “Mom, would you like to have some coffee or tea?”
            Jawaban yang didengar adalah, “your pen, pleaze!” Lalu menulisi tissu di depannya dengan pen. “Give it to your manager!”
            “Allright, Mom. Should you need assistance, my name is Resini, i will be more than happy to assist you!” ujar si waitress.
            Tak lama setelah Resini masuk ke ruang manager, seorang lelaki keluar dengan panik. Dan memburu sang pemakai Gucci. Ia pun meminta maaf berkali-kali.
            “Anda harus disini sebelum morning briefing. Tidak ada alasan sedang menyiapkan report pagi-pagi, itu harus sudah selesai dari kemarin. Atau anda harusnya bisa mendelegasikan food and beverage admin. Saya jadi bertanya-tanya, sudah berapa bulan anda bekerja di restoran.”
            Si Manajer tertunduk. Baru ia mau berucap, sekali lagi, maaf.
            Tapi sang pemilik sepatu Gucci bangkit dan bergumam, “see you in morning briefing!” , lalu melangkah pergi.

Seluruh manajer berbaju serba putih telah duduk melingkari meja. Lalu serempak bangkit setelah si langkah sepatu Gucci memasuki ruangan empat puluh meter persegi itu. Ia duduk di depan sambil menyapa, “Good morning!”
            Seisi ruangan serempak membalas sapaan itu. Semua harus tampak semeriah mungkin. Namun, reaksi si pemakai Gucci tak bergeming. Ia tampak menoleh ke arah perempuan berambut panjang hitam. Kulitnya putih, hampir bisa dikatakan pucat. Matanya yang sipit menjadi tampak lebih bulat oleh eyeliner hitam. Natasha, namanya. Ia sudah hampir dua tahun menjadi sekretaris General Manager di resort Oase.
            Mata Natasha memberi kode ke bu Fatma, Human Resources Manager. Bu Fatma langsung paham apa yang dimauinya. “Ok, selamat pagi rekan-rekan. Tentunya sudah pada tahu, beliau...(mengarah ke wanita si pemilik Gucci), general manager kita yang baru. Pengganti pak Philipe. Sebelum di sini, beliau adalah general manager di Dusit Resort Chiangrai, Thailand....” Bu Fatma terus nyerocos memberitahukan siapakah general manager yang baru ini. Marie Antoinette Diard.
            Ya, lihatlah wanita itu. Ia sama sekali tidak merespon apa yang dilakukan sama bu Fatma. Perhatiannya terpacu pada dokumen di depannya. Tak mendapati respon, bu Fatma pun berhenti. “..., then, Madame Diard will conduct this meeting.”
            Madame Diard pun berdehem. Langsung ia menuju ke arah pak Albert, manajer restoran. Lelaki berambut keriting itu pun sudah menduga apa bahasan selanjutnya. Namun ia salah duga, madame Diard bilang mengenai permintaannya sudah dikirim mellui e-mail.
            Pak Albert mengangguk dan bilang sudah sempat membacanya. Ia pun berjanji akan membagi info penting tersebut kepada seluruh staffnya.
            Pembahasan beralih pada sales, Bu Dewi. Ia adalah kembang mawar di antara tanaman berbunga di meeting room. Riasannya lumayan mencolok, namun pas. Ia langsung mempresentasikan highlight sales market yang masih berkutat pada Australia dan Eropa. “Bulan depan, ada KUONI, Tui France, Asian Trails yang akan masuk dengan group package yang ketentuan kontraknya sudah tim kami bagikan lewat e-mail.”
            Tiba-tiba Madame Diard menyebut nama bu Fatma dengan tatapan sekilas. “Anything you wanna share to us about french speaking guest relation. I thin we can not wait anymore until next month, right. ”
            Bu Fatma mengangguk. “I got one candidate, she will join with us by tomorow.”
            “Saya harap anda sudah memastikan dia beneran bisa bahasa prancis,” ujar Madame Diard sambil berdehem.
            Bu Fatma menjelaskan bahwa proses interview memang melalui skype. Namun, beliau melibatkan salah satu guru bahasa prancis dari l’Allience Française Denpasar. Mendengar itu Madame Diard hanya bergumam, “good!”


 Bersambung