Monday, August 13, 2018

Village Tour Plus

Mount Merapi from Jamus 
As a rural village settled approximately 10 km from the amazing Borobudur temple, Jamus village sustains the old javanese community. No wonder, they speak javanese and live in the middle of rain forest and padi’s ricefield. Village Tour Plus offered to explore this area and fishing in ‘blumbang’ as a plus of the program.




Cycling during village tour
1.      Cycling or Hiking

In the morning, your driver will drop you in the courtyard of the old javanese house which was built in 1970’s. This house owned by Zurohmad familly, the person in charge for the program. He and his team  will welcome and guide you to explore the village by bike or just on foot.



Blumbang or fish farm 


2.      Visiting Home Industry of ‘Emping’

The first stop is home industry of ‘Emping’. Yes, the chips are made from melinjo or  gnetum gnemon which has most antioxidant. You can see the proccess of the chips making and taste it. Almost the women of the village make 'emping' by and sell it by themselves.   






3.      Farmsfield  with tropical forest background

Continuing the exploration, you will find unforgettable view of the ricefield or other farmsfield. The lunch time, you will be guided to Blumbang, a small fish farm where you will go fishing.


Fishing in the farm fish as alternative tourism 
4.      Fishing and grilling your own fish

Enjoy the fishing with your friend in the tropical fish farm. After you got it, you will grill your own fish and bon appétit!

For more inquiry and reservation: 
 zurohmad88@gmail.com
Duration: 4 hours
450.000++ IDR /pax





Friday, August 10, 2018

Le Lever de Soleil Magnifique à Bromo et La Visite Kawah Ijen

Bromo, site volcanique fascinant

Java-Est est très connu pour sa nature. Bromo est un des sites très impresionant.  Ça m’interesse toujours à chaque fois faire du ‘trekking’ le Jardin National d’Indonésie. Au bord de la route, j’ai decouvert les vegetations éxtraordinaires tout au bord de chemin du trekking. Et puis, on arriva au coin où on jouit d’un panorama volcanique. Autrement, Kawah Ijen offre le paysage innoubliable. Kawah signifie la cratère et Ijen est vert, il s’agit alors la cratère verte. La distance de trekking est plus longue de celle à Bromo.

Voilà le petit avis de faire le trekking de ces deux sites:

Bali-Ijen
la cratere d'Ijen, source: soloida.com
Transfert pour le port de Gilimanuk Bali afin de prendre le ferry à destination de port Ketapang, Banyuwangi. Dîner et nuit à l’hotel avant partir à lendemin 05h00 en Jeep pour trekking à Kawah Ijen au matin. Pour le lever de soleil de Kawah Ijen,  on part  d’hotel au minuit. Retourner à l’hôtel pour se doucher  et partir pour Malang.









l'herbe gele

Malang- Bromo

Arrivé à Malang et nuit à l’hôtel. Malang est une ville très connue pour le repas et aussi le complex des maisons multicolorés. Au minuit et demi, départ pour Bromo en voiture jusqu’à Sukapura où se trouve Jeep pour acceder Bromo. Dejeuner au Lava View Lodge. Malang est un avis pour ceux qui n’aime pas du tout 3-10°C.

Bromo- Menjangan.

Arrivé à votre résort à Menjangan au milieu de la fôret de mangroves. Voilà la visite de Ijen et Bromo de Bali. Pour la reservation et avis, n’hesitez vous de me contacter: balimoneveil@gmail.com.

Thursday, May 31, 2018

Berwisata dan Sholat di Pura Langgar Bangli: Pesona Ramadhan 2018



Langgar dalam Pura
Bukti monumental toleransi di Bali  yang memesona
foto: merdeka
Bali dikenal sebagai pulau dewata yang memiliki ribuan pura. Tak jarang, pura memiliki fungsi sebagai tempat sembahyang sekaligus daya tarik wisata. Pura yang menarik wisatawan biasanya memiliki arsitektur yang unik, nilai historis yang tinggi dan menyimbolkan nilai-nilai luhur. Pura yang patut dikunjungi saat bulan ramadhan ini adalah Pura Langgar. 
            Pura ini terletak  sekitar 20 menit berkendaraan mobil dari  kota Bangli, Bali, ke arah selatan. Tepatnya, pura ini berada di sisi timur jalan raya dan masih harus memasuki gang yang hanya bisa dilewati satu mobil. Sehingga, harus lumayan berjuang.
            Namun begitu sampai disana, saya dibuat takjub. Betapa tidak, pura ini memiliki langgar yang terletak di dalam kompleks pura. Mungkin, ini satu-satunya bangunan yang menyimbolkan kerukunan umat beragama kaum muslim dan Hindu sejak abad ke-17.
            Pura yang disebut juga Pura Dalem Jawa ini dibangun di atas kolam dengan banyak tanaman teratai. Konon, Pura Langgar berdiri karena keterikatan antara Kerajaan Bunutin dan Kerajaan Blambangan di Banyuwangi, Jawa Timur. Saat itu, Raja Kerajaan Bunutin adalah Ida I Dewa Mas Blambangan masih keturunan kerajaan Blambangan yang sakit keras sebelum akhirnya mangkat. Beliau membangun tempat peristirahatan (maqam) untuk sahabatnya, Ida Mas Wilis Blambangan, di dalam langgar. Menurut pemandu saya, bapak Gde Oka, bentuk pura ini menyerupai Mushola. Namun direnovasi sekitar tahun 1920 karena insiden kebakaran.  Pura ini dilengkapi dengan beberapa fasilitas bagi pengunjung muslim yang berkunjung, seperti area  parkir, tempat wudhu dan sholat. Jadi tidak perlu khawatir ibadah keteteran saat liburan.
           
Kolam Teratai yang menyejukan bagi yang memandangnya
Sumber: balitemple
Oh iya, bulan Ramadhan tahun ini bertepatan dengan hari raya Galungan dan Kuningan. Sebab itulah pura begitu ramai orang memakai baju adat Bali serba putih sedang bersembahyang. Ada yang menarik, olahan babi yang akrab dengan ritual perayaan Galungan tidak ditemukan di pura ini. Kata salah satu penduduk yang habis selesai sembahyang, tradisi ‘Galungan’ tanpa babi ini untuk menghormati keberadaan langgar di dalam pura. Mereka tahu betul, Babi dan alkohol adalah makanan dan minuman yang diharamkan untuk dimakan umat muslim. Saking tidak ingin menyakiti perasaan umat  Islam, Babi pun tak tersaji disana, tetapi di bagian pura yang lain.
            Disini, saya benar-benar memahami apa arti salah satu prinsip Trihita Karana, pawongan yang dipegang teguh umat Hindu. Mereka tahu caranya membina keharmonisan hubungan antar-manusia. “Ibaratnya, makan babi di depan kawan yang muslim bisa menyakiti hati, lebih baik tidak makan sama sekali. Jika harus makan, di tempat lain. Supaya tidak tersinggung!” ujar salah satu penduduk.
            Padahal, saya tidak terlalu ambil pusing mereka memakannya. Namun, ya sudahlah, itulah cara mereka menyambut kita, umat muslim, untuk menjadi bagian dari masayarakat Bali. Hmmm, saya kembali ke Denpasar dengan pelajaran yang sangat berharga.

Disclaimer: artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Pesona Ramadhan yang diadakan oleh Generasi Pesona Indonesia  dan Kementrian Pariwisata Indonesia